2019-02-01

Redmi Note 7 Hadir Dengan Kamera 48 MP dan Banderol Murah

Jelang hari terakhir Consumer Electronic Show (CES) 2019 di Las Vegas, Amerika Serikat, Xiaomi mengenalkan perangkat terbarunya Redmi Note 7. Perkenalan ini sekaligus mengenalkan sub-brand terbaru pabrikan asal China ini setelah Pocophone. Sub-brand baru ini tetap menyandang nama Redmi.


Praktis untuk lini smartphone, Xiaomi hanya memiliki seri Mi yang akan bertarung di kelas premium. Sementara untuk smartphone yang mengedepankan performa, Xiaomi memiliki Poco atau Pocophone. Dan Redmi ini ditujukan untuk segmen entry-level hingga mid-range.

Pemisahan sub-brand dari merek induknya telah terjadi sejak zaman ZTE yang membuat Nubia pada 2012. Huawei pun sudah memiliki Honor untuk sub-brand-nya. Oppo juga punya Realme. Dan apabila ditelisik, alasan masing-masing merek dalam membuat sub-brand tentu saja soal bagaimana memenangkan pertarungan di pasar. Setiap sub-brand diharapkan memenangi pasar mereka sendiri, sementara merek induknya menjaga diri agar tetap bercitarasa elit di mata konsumen loyalnya.

Pertanyaannya, mampukah Redmi Note 7 yang merupakan produk pertama dari Redmi itu memenangi pertarungan di segmen yang mereka sasar? Tanpa bermaksud mendahului kuasa Tuhan, sepertinya mereka mampu. Sebab melihat price-to-spec yang ditawarkan saat perkenalan itu, Redmi Note 7 cukup menggiurkan untuk diburu.

Dari sisi desain, Redmi Note 7 memakai desain kekinian dengan bodi glossy yang mengadopsi tren warna gradasi. Cuma warna gradasi ini tidak berlaku pada versi warna hitam. Sementara itu jika diperhatikan dengan seksama, Redmi Note 5 memiliki desain yang sama dengan Mi Play.

Di bodi belakang Redmi Note 7 ada setup kamera ganda yang dipasang vertikal dengan flash dibawahnya. Lalu di tengah bodi belakang ini ada fingerprint sensor yang berbentuk lingkaran dan dibawahnya ada tulisan "Redmi by Xiaomi". Kalau dilihat sekilas memang mirip dengan Mi Play, tapi Redmi Note 7 lebih besar dan berat.

Bagian depan Redmi Note 7 dihuni oleh layar dengan panel IPS LCD, lebar 6,3 inci, rasio 19,5:9, dan dilindungi oleh coating Gorilla Glass 5. Smartphone ini memiliki rasio screen-to-body sebesar 81,4 %. Artinya, meski dengan bentang layar 6,3 inci, tak membuat smartphone jadi susah dimasukkan ke saku. Sebab dengan persentase rasio di angka tersebut, smartphone ini bisa memiliki dimensi panjang 15,92 cm, lebar 7,52 cm, dan tebal 0,81 cm. Memangnya ada mulut saku baju orang dewasa yang kurang dari 7,6 cm?

Rasio screen-to-body yang besar pada smartphone memang mengorbankan penempatan kamera depan dan proximity sensor. Alhasil demi tetap mempertahankan layar yang lebar dengan bodi tetap tidak gembrot, pabrikan sengaja membuat 'cacat' yang kerap disebut poni. Redmi Note 7 pun mengadopsi hal serupa. Smartphone ini memakai poni tetes air yang ditempati oleh kamera depan dan proximity sensor.

Kamera depan pada Redmi Note 7 memiliki resolusi 13 MP. Namun sektor kamera depan ini bukan menjadi bahan jualan Redmi, sebab jualannya ada pada sektor kamera belakang yang memiliki resolusi 48 MP. Untuk menegaskannya, di bawah setup kamera ganda di bodi belakang tertulis "48 MP AI Dual Camera". Kamera beresolusi monster ini memiliki bukaan f/1.8. Dengan sensor kamera Isocell GM1 buatan Samsung, kamera ini mampu menghasilkan jepretan dengan resolusi tinggi. Redmi pun menjamin kalau sensor ini ciamik dalam menghasilkan foto meski dalam konidisi cahaya yang kurang bagus. Sementara itu kamera belakang kedua dengan resolusi 5 MP berfungsi membuat efek bokeh.

Andalan lain dari Redmi Note 7 tentu dapur pacunya. Smartphone ini mengandalkan chipset Snapdragon 660 dengan fabrikasi 14nm. CPU chipset ini terdiri dari delapan inti yang mengandung empat Kryo 260 dengan kecepatan 2,2 GHz dan empat Kryo 260 lagi yang berkecepatan 1,8 GHz. Sementara itu urusan grafisnya seperti biasa diserahkan pada Adreno 512. Untuk RAM sendiri ada tiga versi, yakni 3 GB, 4 GB, dan 6 GB. Sementara memori internalnya hanya ada dua opsi, yakni 32 GB dan 64 GB. Pada sisi software, Redmi Note 7 memakai Android 9 Pie dengan kostumisasi MIUI 10.

Untuk menyuplai dapur pacu tadi, Redmi Note 7 ditenagai oleh baterai tanam Li-Po sebesar 4.000 mAh. Menurut petunjuk spesifikasinya, dan ditunjang dengan keberadaan port USB Type-C, smartphone ini mendukung fitur Fast Charging 4 dari Qualcomm. Namun kabarnya, agar bisa menikmati fitur pengisian cepat ini, konsumen harus membeli charger-nya secara terpisah atau charger khusus fast charging yang tersedia banyak di pasaran. ~Ya, beli lah, masak minjem, Rudolfo?

Meski baru dikenalkan, akun media sosial Xiaomi Indonesia sudah meramaikan Redmi Note 7 ini. Hal ini menjadi tanda kalau Redmi Note 7 bakal masuk ke Indonesia secara resmi. Dengan ketersediaan varian spesifikasi dan warna, belum diketahui mana saja yang bakal dibawa Redmi ke tanah air. Cuma untuk soal harga sendiri, Redmi membanderol Redmi Note 7 mulai dari 999 Yuan atau setara Rp2,1 juta hingga versi tertingginya dibanderol 1,399 Yuan atau sekitar Rp2,9 jutaan.

Bagaimana, tergiur dengan penawaran Xiaomi, eh maaf, Redmi ini, bosque? Untuk harganya sendiri dibanderol dengan harga Rp1.999.000 untuk versi RAM 3 GB dan memori 32 GB, sementara untuk versi 4 GB dan memori 64 GB dibanderol Rp2.599.000. Harga ini tergolong murah, sehingga memang berpotensi merusak pasar smartphone dengan chipset Snapdragon 660.

*Artikel yang serupa pernah terbit di Mojok.co.

2019-01-13

Huawei Y7 Pro 2019 Siap Dijual, Andalkan Baterai Gede dan Harga Terjangkau

Pada awal tahun, Huawei telah merilis Huawei Y7 Pro (2019) di Vietnam. Harga smartphone teranyar milik Huawei ini hanya dibanderol Rp2 jutaan saja disana. Kini Huawei membawa smartphone tersebut ke Indonesia. Lantas apa keunggulan yang dimiliki smartphone yang namanya pernah dipakai untuk smartphone Huawei pada tahun 2018 ini?


Ditilik dari depan, Huawei Y7 Pro hadir dengan layar yang memakai panel IPS LCD dengan bentang 6,26 inci. Layar ini memiliki resolusi HD+ dengan 1520 x 720 piksel dan aspek rasio 19:9. Dengan bantuan poni tetes air, layar ini memiliki rasio screen-to-body sebesar 80% sehingga meski bentang layarnya lebar, bodinya tidak ikutan melebar pula.

Di bagian belakang, Huawei Y7 Pro masih mengandalkan desain ala Huawei seperti Nova 3i, P20 Pro, dan seterusnya. Namun tidak ditemukan adanya sensor sidik jari di belakangnya. Jadi smartphone ini hanya mengandalkan sensor pemindai wajah untuk mengamankan perangkat.

Masih di bagian belakang, smartphone ini menggunakan setup kamera ganda. Kamera pertama beresolusi 13MP dengan bukaan f/1.8 dan kamera kedua beresolusi 2MP untuk menciptakan efek bokeh. Kamera ganda ini dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI) yang bisa mengenali scene foto.

Sementara itu di depan tersedia kamera untuk selfie dengan resolusi 8 MP dengan beragam fitur untuk membuat hasil foto lebih baik.

Untuk performa sendiri, Huawei Y7 Pro dibekali dengan chipset dari Snapdragon 450 dengan kecepatan 1,8 GHz. Chipset ini setara dengan Snapdragon 625 yang dirilis sebelumnya. Kalau diukur dengan skor Antutu, chipset Huawei Y7 Pro mendapatkan hasil sekitar 73.000-an.

Huawei pun menyematkan RAM sebesar 3 GB dan memori internal sebesar 32 GB. Tersedia pula slot microSD yang bisa mendukung kapasitas hingga 512 GB agar pengguna bisa menyimpan data yang lebih banyak.

Salah satu keunggulan dari smartphone ini adalah keberadaan baterai 4000mAh. Jadi dengan chipset mid-range yang cukup baik, software EMUI 8.2 hasil kostumisasi Android 8.1, Huawei Y7 Pro dijamin bertahan seharian.

Untuk harga sendiri, secara resmi Huawei membanderol smartphone ini dengan harga Rp1.999.000. Beberapa hari ke depan, smartphone ini akan tersedia di Lazada.

Sosiago, Wadah Bertemunya Advertiser dan Influencer


Kadang pelaku bisnis susah untuk menemukan orang-orang yang cocok untuk mempromosikan produk mereka di internet. Jaringan dan kapasitas menjadi penghambat dari kegiatan promosi semacam ini.

Untuk itulah banyak hadir egansi, platform, atau marketplace, yang menghubungkan antara advertiser dengan para buzzer atau influencer. Salah satu yang sedang digandrungi sebagai platform semacam ini adalah Sosiago.

Sosiago merupakan platform hasil re-branding dari iBlogMarket pada 18 Oktober 2018. Jadi usianya memang baru tiga bulanan. Namun usia tiga bulanan tersebut, Sosiago sudah mencatatkan diri telah menyelesaikan pekerjaan 46 kali dan masih menyisakan 28 pekerjaan yang masih berjalan.

Pekerjaan Sosiago didukung oleh jumlah influencer yang cukup masif. Ada sekitar 20.000 influencer yang tergabung di Sosiago. Jumlah ini terdiri atas influencer lintas platform, ada Twitter, Instagram, Youtube, dan bloger.

Banyak pihak yang melakukan coba Sosiago influencer marketing ini disebabkan biayanya yang minim. Apalagi kalau untuk melihat-lihat saja, tidak ada biaya yang bakal dikeluarkan. Tampilan situsnya pun menarik dan loadingnya ringan. Jadi cukup menyenangkan berinteraksi di Sosiago ini.

SosiaGo Office
Perkantoran Vila Delima No. 2, Jalan Delima Raya, Lebak Bulus, Cilandak
Jakarta Selatan 12440, Indonesia
Website: www.sosiago.id


2019-01-11

Review Asus Zenfone Max Pro M2

Asus kembali merilis smartphone untuk pasar Indonesia, namanya Asus Zenfone Max Pro M2. Smartphone ini dirilis bersamaan dengan 'adiknya' Zenfone Max M2 dan smartphone ‘sultan’ ROG Phone. Pasar smartphone pun kembali memanas, sebab sejak awal kali teaser-nya dirilis, banyak pihak menduga smartphone ini bakal ikut-ikutan gaib.


Asus Zenfone Max Pro M2 merupakan penerus Zenfone Max Pro M1 yang telah mendapat predikat sebagai smartphone gaib. Antusiasnya pasar yang tidak diiringi dengan ketersediaan perangkat beberapa waktu setelah dirilis membuat predikat itu masih melekat hingga menempel pada suksesornya sekarang. Harganya yang sepadan atau kata anak Jaksel yaitu value for money-nya bagus membuat Zenfone Max Pro M2 bakal digadang-gadang ikutan gaib juga.

Lantas seberapa menggiurkan sebetulnya Zenfone Max Pro M2 ini? Apakah ia sepadan dengan harga yang ditawarkan? Mari kita lihat spesifikasinya.

Zenfone Max Pro M2 memiliki bodi plastik yang mendapat sentuhan glossy. Sentuhan ini memang bukan serupa pattern Zen-circle pada Zenfone 5 dan Zenfone 5Z, namun lebih ke kilauan semi-elips yang vertikal. Bodi ini mungkin sebuah upaya untuk melepaskan diri dari sentuhan matte, yang notabene lawan dari glossy, yang sebelumnya dipakai pada smartphone Asus seri Max lainnya sejak Zenfone 4 Max dan Zenfone 4 Max Pro, Zenfone Max Plus M1, sampai Zenfone Max M1 dan Zenfone Max Pro M1. Meski begitu bodi matte ini masih dipertahankan untuk Zenfone Max M2.

Fingerprint scanner yang terletak di atas logo Asus masih tetap dipertahankan pada Zenfone Max Pro M2. Hanya saja ada sedikit perbedaan pada desain penempatan kamera ganda. Posisinya masih vertikal sih, cuma antara kamera ganda dengan flash disatukan oleh bingkai yang tidak ditemukan pada smartphone pendahulunya.

Berbicara soal kamera ganda yang ada di belakang, Asus memberikan upgrade sensor pada lensa utamanya. Lensa utama yang memiliki resolusi 12 MP dengan bukaan f1.8 tersebut memiliki reputasi kecanggihan fotografi Sony, yakni lewat sensor IMX486. Sementara lensa kedua yang memiliki 5MP dengan sudut pemotretan sebesar 84° hanya dipergunakan untuk memberikan efek bokeh. Untuk software-nya sendiri, Asus tidak menggunakan PixelMaster namun Snapdragon Camera. Mengapa? Nanti dijelaskan setelah kita mengenal display dari Zenfone Max Pro M2 ini.

Pilihan untuk membuat persentase screen-to-body lebih besar bagi mayoritas pabrikan adalah membuat poni di layar. Ya mau poni biasa ataupun poni tetes air, tetap saja tujuan dari keberadaan poni adalah agar layar yang semakin lebar tidak membuat bodi smartphone menjadi melebar juga. Untuk itulah Asus pun memasang poni pada Zenfone Max Pro M2 ini.

Hasil dari pemasangan poni pada layar Zenfone Max Pro M2 ini membuat screen-to-body menjadi 82%, cukup besar dibandingkan Zenfone Max Pro M1 yang 76%. Padahal dimensi lebar bodi Zenfone Max Pro hanya 75,5 mm sementara layarnya 6,3 inci. Silakan bandingkan dengan pendahulunya yang memiliki lebar bodi 76 mm dengan bentang layar 6 inci. Maka berterimakasihlah pada Apple poni.

Keberadaan kaca pelindung Gorilla Glass 6 pada Zenfone Max Pro M2 membuat daya tarik tersendiri pada smartphone ini. Eh, daya tarik atau biasa aja sih? Soalnya apapun kaca pelindung layarnya, tempered glass biasanya selalu menjadi opsi pembelian tambahan yang kerap dilakukan pengguna smartphone. Namun buat yang ragu-ragu atas daya tahan pelindung ini, maka Corning, selaku pabrikan pembuatnya, mengklaim kalau Gorilla Glass versi 6 ini bisa bertahan jatuh dari ketinggian 1 meter.

Upgrade selanjutnya terletak pada dapur pacu. Asus memasang chipset Snapdragon 660 pada Zenfone Max Pro M2. Chipset ini memakai fabrikasi 14nm dengan delapan inti prosesor yang punya kecepatan hingga 2,2 GHz. Untuk grafisnya ditopang oleh Adreno 512. Untuk diketahui saja, Snapdragon 660 banyak dipakai oleh smartphone kelas menengah yang dibanderol pada kisaran 3,7 juta hingga 7 jutaan, dari Xiaomi Mi 8 sampai Samsung A9 yang punya kamera empat itu.

Sayangnya Asus tidak menyertakan konektivitas NFC pada Zenfone Max Pro M2. Fitur ini, menurut kajian Asus, hanya diperlukan oleh paling tidak 10% saja dari pengguna smartphone di Indonesia. Hal yang berbeda ketika smartphone ini dirilis di negara lain seperti Rusia maupun Singapura.

Zenfone Max Pro M2 masih melanjutkan ciri khas software pendahulunya, yakni tidak memakai kustomisasi ZenUI namun memakai Android murni versi 8.1. Tersebab bukan merupakan program Android One, meski memakai Android murni, update software ini tetap dilakukan oleh Asus, bukan Google langsung. Itulah mengapa aplikasi kamera bawaan yang dipergunakan bukan PixelMaster seperti Zenfone seri yang lain yang memakai ZenUI, tetapi Snapdragon Camera.

Sebagai salah satu seri Max dan menyandang imbuhan Pro, Zenfone Max Pro M2 tentu dibekali dengan baterai jumbo sebesar 5000mAh. Menurut klaim Asus, baterai ini bakal bertahan hingga 10 jam ketika dipakai bermain game. Sayangnya tidak ada keterangan kalau Zenfone Max Pro M2 ini bisa diisi daya dengan cara quick charge meski chipset-nya mendukung. Padahal kalau bisa sih enak, baterainya gede diisnya pun bisa cepat. Yha... namanya juga smartphone murah terjangkau.

Yang membuat Zenfone Max Pro M2 ini hype adalah banderol yang dipasang Asus. Harganya mulai dari Rp2.799.000 untuk versi RAM 3 GB dan memori internal 32 GB, Rp3.199.000 untuk versi RAM 4 GB dan memori 64 GB, serta Rp3.699.000 untuk RAM 6 GB dan memori 64 GB. Apakah harga senilai itu murah? Ya tergantung sih. Sebab harga smartphone tidak selalu tergantung dari price to spec. Ketersediaan perangkat di pasaran juga bisa menjadi faktor lain. Ya kalau murah tapi susah didapatkan alias gaib, buat apa juga?

Pernah dimuat di Mojok.co

2019-01-10

Instagram Rilis Pembaruan Posting Untuk Banyak Akun

Media sosial khusus foto, Instagram, kini membawa pembaruan fitur yang menarik. Fitur ini memungkinkan seseorang untuk mengunggah fotonya dalam sekali klik ke banyak akun. Pembaruan ini sepertinya sangat berguna buat para influencer yang memiliki banyak akun yang perlu dikelola.

Dikutip dari TechCrunch, banyak pengguna Instagram yang tidak peduli dengan pembaruan ini. Sebabnya ialah banyak pengguna yang tidak memiliki dua atau lebih akun Instagram. Mereka hanya memiliki satu saja dan merasa tidak perlu untuk memiliki dua akun atau lebih. Mereka konsisten dengan satu akun saja dan tetap mengunggah secara original foto-foto mereka di akun tersebut.

Namun buat yang ingin mendapatkan manfaat dari fitur ini, unggah saja foto atau video sebagaimana biasa. Saat di menu unggahan ini, ada pilihan baru selain penambahan caption dan tag, juga ada pemilihan akun mana saja yang bakal diunggah foto tersebut.

Sayangnya, pembaruan fitur ini hanya untuk pengguna Instagram di iOS saja. Untuk mereka yang menggunakan Instagram di smartphone Android tampaknya mesti banyak bersabar untuk menunggu fitur ini hadir di smartphone mereka.

2019-01-09

Acer Rilis Kursi Gaming Mewah Seharga Rp299 Juta

Untuk meramaikan pasar gaming di Indonesia, Acer membawa kursi khusus gaming yang mewah tak ketulungan. Ya, Acer membawa Predator Thronos pada Selasa (8/1/2019) kemarin. Predator Thronos ini merupakan sebuah kursi bak singgasana mewah dengan banderol mencengangkan.

Pembeli Acer Predator Thronos bakal mendapatkan kursi bersama penopang yang tingginya mencapai 1,5 meter dengan bobot 220 kg. Penopang ini lengkap dengan kelap-kelip lampu RGB yang bisa diatur warnanya. Selain itu kursi ini pun dilengkapi dengan pijakan kaki dan papan khusus yang didesain sebagai tempat keyboard dan mouse.

Selain mampu dimiringkan hingga 140 derajat, kursi ini pun bisa menghasilkan getaran sesuai dengan tipe game yang dimainkan. Hal ini disebut dengan ditur force feedback.

Predator Thronos bukan cuma berbicara kursi, namun ada tiga buah monitor Predator Z271U yang berukuran 27 inci. Layar ini mendukung refresh rate hingga 144 Hz sehingga bebas lag dan shuttering sebab didukung oleh fitur Nvidia G-Sync. Monitor ini dibuat mengelilingi pengguna agar menghasilkan efek surrounding yang ciamik.

Predator Thronos terdiri atas dua versi. Keduanya dibedakan secara jelas ketika berbicara dapur pacu. Predator Thronos yang pertama disebut "Premium Gaming" yang dibanderol dengan harga 199 juta. Komputer ini memiliki spesifikasi PC Predator Orion 5000 yakni berprosesor Intel Core i7-9700K, kartu grafis Nvidia GTX 1080, berikut RAM 16 GB, SSD 256 GB dan HDD 2 TB. Acer membanderol versi ini senilai Rp199 juta.

Sementara itu, versi kedua disebut "Ultimate Gaming" yang memiliki spesifikasi PC Predator Orion 9000 berprosesor Intel Core i9-7900X dan dua kartu grafis Nvidia GeForce RTX 2080 SLI, dengan RAM 16 GB, serta media penyimpanan SSD 256 GB dan HDD 2 TB. Ultimate Gaming dibanderol sebesar Rp299 juta.

Ketika membeli kursi ini, pembeli akan mendapatkan mendapatkan bundle aksesori gaming lain seperti mouse, headphone, keyboard, dan mousepad yang kesemuanya merupakan bikinan Predator, sub-brand Acer yang fokus ke gaming. Bagaimana, anda berminat?

Gambar: PcMag.com

2019-01-06

Oppo R17 Pro: Smartphone Dengan Kamera Pembaca 3D dan Charge Super Cepat

Oppo kembali merilis smartphone terbarunya di Indonesia, Oppo R17 Pro. Smartphone yang sebetulnya telah dirilis pada September 2018 lalu, kini dibawa ke tanah air untuk berebut ceruk sesuai target Oppo Seri-R: fashionable, suka dengan teknologi baru, dan tentu saja punya budget lebih.
Sebagai catatan, Oppo hanya membawa R17 Pro saja ke tanah air meski smartphone ini punya 'adik kandung' yakni R17 yang spesifikasinya lebih rendah. Meski dirilis secara global berbarengan, smartphone ini tak terlampau banyak dibahas oleh banyak orang. Itulah mungkin yang menjadi alasan mengapa Oppo hanya membawa kakaknya tersebut.

Sebagai salah satu seri-R dari Oppo, R17 Pro memiliki tampilan yang amat memikat. Terlebih tampilan belakang yang memadukan antara warna ungu dengan biru muda dan dibatasi oleh gradasi kabut yang sedikit menyerupai huruf S. Oppo sendiri menyebut tampilan ini sebagai Radiant Mist.

Bodi belakang yang cantik ini terbuat dari bahan kaca yang bertekstur matte. Bahan ini tergolong anti fingerprint magnetic. Ya memang tak anti-anti banget sih. Sidik jari tetap ada tapi tak terlalu tampak. Dan sebagai perlindungan, Oppo memasang coating Corning Gorilla Glass 6 pada bodi belakang ini. Sudah cantik, kuat pula.

Tampilan bodi cantik ini tidak terganggu oleh kehadiran fingerprint scanner. Sebab salah satu fitur keamanan ini berpindah ke bagian depan, dan orang-orang menyebutnya under display fingerprint scanner. Ini merupakan salah satu fitur unggulan Oppo R17 Pro.

Kalau bodi belakang saja terpasang Gorilla Glass 6, apatah lagi layar yang ada di depan. Layar berjenis AMOLED dengan bentang 6,4 inci yang memiliki poni tetes air di bagian atasnya ini juga sama-sama terpasang coating Gorilla Glass 6.

Layar ini memiliki rasio 19,5:9 dengan screen to body ratio sebesar 91,5%. Sehingga meski berlayar cukup lebar, tidak membuat bodi smartphone jadi melebar. Dimensi total smartphone ini hanya 157.6 x 74.6 x 7.9 mm saja.

Fitur unggulan lain selain tampilan dan sidik jari di bawah layar adalah kamera. Fitur ini pun menjadi yang paling banyak diperbincangkan sebab membawa sebuah teknologi baru di ranah smartphone mid-range.

Oppo R17 Pro memiliki tiga kamera di belakang. Ketiga modul kamera yang didesain vertikal ini memiliki fungsinya masing-masing. Pertama, modul kamera di tengah memiliki resolusi 12 MP, dengan dual aperture yakni f/1.5 dan 2.4 dan ukuran sensor 1.,4 µm. Dual aperture ini akan berganti-ganti secara otomatis sesuai dengan kondisi pencahayaan.

Modul kamera kedua yang berada di bawahnya, memiliki resolusi yang lebih tinggi yakni 20 MP dengan aperture f/2.6. Kamera yang letaknya paling bawah ini berjasa dalam membuat efek bokeh yang ciamik.

Sementara itu, kamera yang berada di posisi paling atas merupakan TOF 3D stereo camera. TOF singkatan dari Time of Flight. Kamera ini bisa dipergunakan untuk mengambil foto tiga dimensi, yang kelak berguna untuk aplikasi 3D printing.

Kamera ini pun bisa diaplikasikan ke hal yang lebih luas, seperti penangkapan gerak, bentuk tubuh, pengukuran kedalaman, dan lainnya. Aplikasi augmented reality pun bakal lebih baik dengan kamera ini.

Sayangnya, Oppo masih menonaktifkan fitur ini, sebab software-nya masih mentah. Kelak kalau pihak pengembang dari Oppo sudah siap, pemilik Oppo R17 Pro akan mendapat update-nya. ~Tapi ya gak tau kapan siiih...

Saat ini, kamera TOF ini hanya bisa dipergunakan untuk mengenali kondisi pencahayaan dalam membantu kamera lain memotret.

Pembacaan cahaya saat memotret memang menjadi andalan utama dari kamera Oppo R17 Pro. Sehingga Oppo cukup percaya diri dengan memberi tagline "Seize the night" yang berasal dari padanan Bahasa Inggris untuk bahasa Latin “carpe noctem”, pada smartphone ini. Ya, “merengkuh malam” kalau ditafsirkan ke Bahasa Indonesia.

Sementara itu, kamera depan yang letaknya persis didalam poni tetes air memiliki resolusi yang lebih besar lagi yakni 25 MP dengan bukaan f/2.0. Kamera ini memiliki ukuran sensor 0.9µm.

Untuk dapur pacunya sendiri, Oppo memasang chipset Snapdragon 710 yang terdiri atas delapan inti. Inti ini tersusun dari dua inti Kryo 360 Gold berkecepatan 2,2 GHz dan enam Kryo 360 Silver berkecepatan 1,7 GHz. Urusan grafis diserahkan pada Adreno 616.

Sebagai catatan, Oppo R17 Pro menjadi smartphone resmi pertama yang memakai chipset Snapdragon 710 di Indonesia. Catat ya, yang resmi.

Untuk urusan performa sendiri, Snapdragon 710 berada di bawah Snapdragon 845, namun cukup superior dibandingkan Snapdragon 660 apalagi Kirin 710 dan Helio P60. Cuma ukuran itu hanya tampak dari skor AnTuTu saja yang berkisar di angka 150 ribu hingga 160 ribu.

Soalnya kalau pengalaman penggunaan, antara Snapdragon 710 dengan Snapdragon 660 tidak terlalu jauh berbeda. Ya, mungkin karena sama-sama chipset mid-range.

Untuk pasar Indonesia, Oppo hanya membawa Oppo R17 Pro yang versi RAM 8 GB dan internal memori 128 GB saja.

Sebelum masuk ke harga, ada satu pertimbangan lagi untuk meminang Oppo R17 Pro, yakni keberadaan fitur Super VOOC Flash Charge. Untuk diketahui saja, Oppo Find X reguler hanya memakai fitur VOOC. Barulah pada Find X edisi Lamborghini yang harganya 'menakjubkan' itu fitur ini disematkan.

Kelebihan Super VOOC adalah mampu mengisi daya jauh lebih cepat daripada smartphone tanpa fitur ini. Melalui fitur ini, dalam 10 menit saja, Oppo mengklaim smartphone ini bisa terisi dayanya sebesar 40 %.

Baterai Oppo R17 Pro memiliki kapasitas 3700mAh yang terdiri atas dua sel yang masing-masing memiliki 1850mAh. Dan agar baterai ini tetap bisa diisi dengan fitur Super VOOC itu, harus ada seluruh komponennya, yakni smartphone-nya, kabel, dan kepala charger bawaan. Kalau misal tidak ada kabel charger-nya saja, fitur ini tidak bisa berjalan.

Soal harga, ada yang bilang harga yang ditawarkan Oppo cukup tinggi. Overprice, kata anak Jaksel. Sebab ukuran harga smartphone biasanya didasarkan pada jenis chipset. Tapi Oppo tetap percaya diri dengan merilis Oppo R17 Pro ini dengan harga resmi Rp9.999.000.

Apakah harga sebesar itu membuat Oppo R17 Pro ini di-skip banyak orang? Belum tentu. Sebab seperti tertulis di awal, market Oppo terutama seri R ini menyasar mereka yang sejalan dengan desain, fitur, citarasa, dan terutama budget lebih. Jadi kalau bukan target pasarnya, ya jangan bilang mahal.

2018-11-07

Honor 8X Resmi Dirilis di Indonesia, Ini Harga dan Sepsifikasinya

Honor terus merangsek di pasar Indonesia dengan menghadirkan beragam smartphone mereka. Kali ini, pabrikan yang merupakan 'anak' dari Huawei ini merilis Honor 8X yang merupakan salah satu smartphone premium dengan harga terjangkau, di tanah air pada Selasa (6/11/2018).

Honor 8X menjadi pelanjut strategi Honor untur menancapkan diri sebagai pemain besar dalam industri smartphone di Indonesia. Setidaknya inilah yang disampaikan oleh James Yang saat peluncuran Honor 8X.

"Honor tak akan berhenti memukau Indonesia dengan kegiatan promosi yang menarik. Kami pun akan menyediakan produk yang inovatif, dengan marketing yang tepat sasaran. Sehingga kami bisa menjadi merek smartphone pilihan dan favorit di Indonesia," katanya di Jakarta.

Seperti telah disebut diatas, Honor 8X sendiri tergolong sebagai smartphone premium yang menurut banyak orang dikategorikan sebagai flagship killer. Sebab spesifikasi Honor cukup membuatnya berada di jajaran smartphone papan atas yang memiliki fitur lengkap.

Beberapa fitur yang menjadi andalan Honor 8X adalah Chipset-on-Film (COF) yang memungkinkan antena diletakkan di sisi samping bodi, atau tidak lagi berada di bagian atas. Kameranya pun memiliki anti-shaking yang membuat pengambilan gambar tidak lagi buram akibat goyangan tangan atau benda bergerak. Untuk lebih lengkapnya silakan lihat gambar berikut ini.


Honor 8X dibanderol dengan harga Rp3.999.000 dengan pekt bundling khusus pada penjualan secara online di Shopee. Penjualan ini bakal dimulai pada tanggal 8 november 2018 pukul 12.00. Untuk penjualan offline sendiri, pihak Honor berjanji akan mengirim perangkat ke sejumlah gerai di berbagai kota di tanah air dan tersedia pada 10 November 2018.

2018-11-01

Wiko Tommy 3 Series Bisa Terkoneksi Internet Meski tanpa SIM Card dan WiFi

Setelah cukup lama tidak terdengar kabarnya, Wiko akhirnya merilis smartphone terbarunya kembali di Indonesia. Mencoba kembali peruntungannya, strategi pabrikan smartphone asal Perancis ini akhirnya berupaya meniru pabrikan China yang membuat smartphone dengan harga yang terjangkau namun spesifikasinya bagus.

Segmentasi yang disasar Wiko kali ini lebih kepada konsumen entry-level. Lebih spesifik lagi, Wiko menyasar kaum milenial yang gemar internetan namun dengan budget yang terjangkau. Untuk itulah Wiko merilis Wiko Tommy 3 Series.

Wiko Tommy 3 Series terdiri atas Tommy 3 dan Tommy 3 Plus. Kedua ponsel ini menghadirkan tampilan yang lebih luas dan jaringan internet yang baik. Untuk tujuan koneksi terbaik tadi, Wiko menggandeng Skyroam SIMO sehingga pengguna Wiko Tommy 3 Series tak perlu menggunakan Wi-Fi dan koneksi data untuk internet stabil.

Skyroam SIMO membuat Wiko percaya diri dengan mengusung tagline No SIMCard, No WiFi, No Problem. Ya, Wiko Tommy 3 Series menggunakan Skyroam SIMO untuk mendeteksi seluruh jaringan provider di Indonesia. Sehingga smartphone ini memiliki kemampuan untuk berjalan tanpa SIMCard provider tertentu maupun WiFi namun tetap terhubung ke internet. Meski begitu, bukan berarti Wiko Tommy 3 Series tidak memiliki slot SIMCard sama sekali maupun koneksi WiFi.

Koneksi tersebut menjadi salah satu titik unggul dari Wiko Tommy 3 Series. Namun bukan berarti sisi yang lain pun ditinggalkan begitu saja. Wiko Tommy 3 Plus memiliki layar Full View IPS dengan resolusi HD+ yang memiliki bentang layar 5,45 inci 1.440 x 720 piksel dengan aspek rasio 18:9. Wiko Tommy 3 memiliki ukuran yang sama hanya lebih kecil resolusinya saja, 960 x 480 piksel.

Wiko Tommy 3 Series dijual dengan harga Rp999.000 untuk Wiko Tommy 3 dan Rp1,5 juta dan Rp1,3 (flash sale) untuk Wiko Tommy 3 Plus. Kedua smartphone ini memiliki beberapa varian warna, yaitu Anthracite Mirror (khusus 3 Plus) (Hitam kaca mengkilap), Anthracite Matte (hitam doff), Gold (emas), Cherry Red (merah), Bleen (silver), serta biru muda.

Inilah spesifikasi lengkap dari Wiko Tommy 3 Series:


2018-09-29

Oppo Find X Seri Terbaru Bakal Punya RAM Terbesar

Oppo Find X merupakan sebuah ponsel inovatif saat ini. Modul kameranya yang tersembunyi dibalik bodi membuat ponsel ini menjadi inovasi menarik saat ini. Meski begitu, Oppo rupanya masih terus melakukan uji coba agar flagship-nya ini lebih menarik banyak pihak penggemar gawai.

Untuk itulah Oppo sepertinya bakal merilis kejutan baru untuk ditanamkan pada Oppo Find X. Sebab baru-baru ini, media telah mengintip data terbaru yang masuk di TENAA, regulator telekomunikasi Cina. Di dalam data tersebut tercantum sebuah pembaruan untuk Oppo Find X dengan nomor model PAFM00 yang memperbarui RAM saja.

Di data tersebut tercantum kalau RAM terbaru dari Oppo Find X menjadi 10 GB. Hal ini bakal menjadikan Oppo Find X sebagai ponsel dengan RAM terbesar saat dirilis.

Meski belum pasti kapan Oppo Find X dengan RAM 10 GB tersebut dirilis, namun GizmoChina memprediksikan kalau Oppo membanderolnya di angka 7,999 Yuan ($1,163) atau setara dengan Rp17 jutaan.

Saat ini Oppo Find X sebetulnya sudah memiliki RAM 8 GB yang terbilang cukup besar. Apalagi RAM tersebut menjadi pendamping chipset yang paling kuat saat ini, yakni Snapdragon 845. Untuk di pasaran Indonesia, Oppo Find X hanya dijual versi memori internal 256 GB saja. Harga ponsel ini Rp13 juta, sehingga kalau ada peningkatan RAM dan harganya seperti yang diprediksi, maka kenaikan harganya cukup luar biasa hanya dengan naiknya RAM saja. Menurut kamu, apakah ini layak?