Review Asus Zenfone Max Pro M2

Asus kembali merilis smartphone untuk pasar Indonesia, namanya Asus Zenfone Max Pro M2. Smartphone ini dirilis bersamaan dengan 'adiknya' Zenfone Max M2 dan smartphone ‘sultan’ ROG Phone. Pasar smartphone pun kembali memanas, sebab sejak awal kali teaser-nya dirilis, banyak pihak menduga smartphone ini bakal ikut-ikutan gaib.


Asus Zenfone Max Pro M2 merupakan penerus Zenfone Max Pro M1 yang telah mendapat predikat sebagai smartphone gaib. Antusiasnya pasar yang tidak diiringi dengan ketersediaan perangkat beberapa waktu setelah dirilis membuat predikat itu masih melekat hingga menempel pada suksesornya sekarang. Harganya yang sepadan atau kata anak Jaksel yaitu value for money-nya bagus membuat Zenfone Max Pro M2 bakal digadang-gadang ikutan gaib juga.

Lantas seberapa menggiurkan sebetulnya Zenfone Max Pro M2 ini? Apakah ia sepadan dengan harga yang ditawarkan? Mari kita lihat spesifikasinya.

Zenfone Max Pro M2 memiliki bodi plastik yang mendapat sentuhan glossy. Sentuhan ini memang bukan serupa pattern Zen-circle pada Zenfone 5 dan Zenfone 5Z, namun lebih ke kilauan semi-elips yang vertikal. Bodi ini mungkin sebuah upaya untuk melepaskan diri dari sentuhan matte, yang notabene lawan dari glossy, yang sebelumnya dipakai pada smartphone Asus seri Max lainnya sejak Zenfone 4 Max dan Zenfone 4 Max Pro, Zenfone Max Plus M1, sampai Zenfone Max M1 dan Zenfone Max Pro M1. Meski begitu bodi matte ini masih dipertahankan untuk Zenfone Max M2.

Fingerprint scanner yang terletak di atas logo Asus masih tetap dipertahankan pada Zenfone Max Pro M2. Hanya saja ada sedikit perbedaan pada desain penempatan kamera ganda. Posisinya masih vertikal sih, cuma antara kamera ganda dengan flash disatukan oleh bingkai yang tidak ditemukan pada smartphone pendahulunya.

Berbicara soal kamera ganda yang ada di belakang, Asus memberikan upgrade sensor pada lensa utamanya. Lensa utama yang memiliki resolusi 12 MP dengan bukaan f1.8 tersebut memiliki reputasi kecanggihan fotografi Sony, yakni lewat sensor IMX486. Sementara lensa kedua yang memiliki 5MP dengan sudut pemotretan sebesar 84° hanya dipergunakan untuk memberikan efek bokeh. Untuk software-nya sendiri, Asus tidak menggunakan PixelMaster namun Snapdragon Camera. Mengapa? Nanti dijelaskan setelah kita mengenal display dari Zenfone Max Pro M2 ini.

Pilihan untuk membuat persentase screen-to-body lebih besar bagi mayoritas pabrikan adalah membuat poni di layar. Ya mau poni biasa ataupun poni tetes air, tetap saja tujuan dari keberadaan poni adalah agar layar yang semakin lebar tidak membuat bodi smartphone menjadi melebar juga. Untuk itulah Asus pun memasang poni pada Zenfone Max Pro M2 ini.

Hasil dari pemasangan poni pada layar Zenfone Max Pro M2 ini membuat screen-to-body menjadi 82%, cukup besar dibandingkan Zenfone Max Pro M1 yang 76%. Padahal dimensi lebar bodi Zenfone Max Pro hanya 75,5 mm sementara layarnya 6,3 inci. Silakan bandingkan dengan pendahulunya yang memiliki lebar bodi 76 mm dengan bentang layar 6 inci. Maka berterimakasihlah pada Apple poni.

Keberadaan kaca pelindung Gorilla Glass 6 pada Zenfone Max Pro M2 membuat daya tarik tersendiri pada smartphone ini. Eh, daya tarik atau biasa aja sih? Soalnya apapun kaca pelindung layarnya, tempered glass biasanya selalu menjadi opsi pembelian tambahan yang kerap dilakukan pengguna smartphone. Namun buat yang ragu-ragu atas daya tahan pelindung ini, maka Corning, selaku pabrikan pembuatnya, mengklaim kalau Gorilla Glass versi 6 ini bisa bertahan jatuh dari ketinggian 1 meter.

Upgrade selanjutnya terletak pada dapur pacu. Asus memasang chipset Snapdragon 660 pada Zenfone Max Pro M2. Chipset ini memakai fabrikasi 14nm dengan delapan inti prosesor yang punya kecepatan hingga 2,2 GHz. Untuk grafisnya ditopang oleh Adreno 512. Untuk diketahui saja, Snapdragon 660 banyak dipakai oleh smartphone kelas menengah yang dibanderol pada kisaran 3,7 juta hingga 7 jutaan, dari Xiaomi Mi 8 sampai Samsung A9 yang punya kamera empat itu.

Sayangnya Asus tidak menyertakan konektivitas NFC pada Zenfone Max Pro M2. Fitur ini, menurut kajian Asus, hanya diperlukan oleh paling tidak 10% saja dari pengguna smartphone di Indonesia. Hal yang berbeda ketika smartphone ini dirilis di negara lain seperti Rusia maupun Singapura.

Zenfone Max Pro M2 masih melanjutkan ciri khas software pendahulunya, yakni tidak memakai kustomisasi ZenUI namun memakai Android murni versi 8.1. Tersebab bukan merupakan program Android One, meski memakai Android murni, update software ini tetap dilakukan oleh Asus, bukan Google langsung. Itulah mengapa aplikasi kamera bawaan yang dipergunakan bukan PixelMaster seperti Zenfone seri yang lain yang memakai ZenUI, tetapi Snapdragon Camera.

Sebagai salah satu seri Max dan menyandang imbuhan Pro, Zenfone Max Pro M2 tentu dibekali dengan baterai jumbo sebesar 5000mAh. Menurut klaim Asus, baterai ini bakal bertahan hingga 10 jam ketika dipakai bermain game. Sayangnya tidak ada keterangan kalau Zenfone Max Pro M2 ini bisa diisi daya dengan cara quick charge meski chipset-nya mendukung. Padahal kalau bisa sih enak, baterainya gede diisnya pun bisa cepat. Yha... namanya juga smartphone murah terjangkau.

Yang membuat Zenfone Max Pro M2 ini hype adalah banderol yang dipasang Asus. Harganya mulai dari Rp2.799.000 untuk versi RAM 3 GB dan memori internal 32 GB, Rp3.199.000 untuk versi RAM 4 GB dan memori 64 GB, serta Rp3.699.000 untuk RAM 6 GB dan memori 64 GB. Apakah harga senilai itu murah? Ya tergantung sih. Sebab harga smartphone tidak selalu tergantung dari price to spec. Ketersediaan perangkat di pasaran juga bisa menjadi faktor lain. Ya kalau murah tapi susah didapatkan alias gaib, buat apa juga?

Pernah dimuat di Mojok.co