2019-03-20

Lolos TKDN, Redmi 7 Siap Meluncur di Pasar Indonesia dengan Harga Rp1,5 Jutaan

Sub-brand baru dari Xiaomi, yakni Redmi, kini mulai merambah Indonesia. Ia bakal hadir dengan produk terbarunya yang diberi nama Redmi 7. Smartphone ini bakal hadir bersamaan dengan Redmi Note 7 yang akan hadir pada 21 Maret 2019. Apa keunggulan Redmi 7 dan berapakah harganya?

Redmi 7 sudah resmi dirilis di China pada Senin (18/3/2019) kemarin. Acara yang juga disiarkan secara live streaming ini mengungkap jelas spesifikasi dan harga yang dibanderol pada smartphone tersebut. Redmi 7 dibekali dengan chipset Snapdragon 632 dengan prosesor octa-core yang dipadankan dengan tiga opsi RAM dan memori interneal. Mulai dari RAM 2 GB dan memori internal 32 GB, RAM 3 GB dan memori 32 GB, serta RAM 4 GB dan memori 64 GB.


Smartphone ini memiliki layar 6,26 inci dengan panel IPS LCD yang beresolusi HD+ 1520 x 720 piksel. Layar ini memiliki desain melengkung di keempat sisinya dengan bagian atas memiliki poni tetes air. Untuk perlindungannya, ada coating Gorilla Glass 5.

Sektor kamera belakang Redmi 7 dibekali dengan sensor 12 MP dengan bukaan f/2.2 dan kamera keduanya memiliki sensor 2 MP sebagai depth sensor. Kamera depan sendiri, yang berada di bagian poni, memiliki kapasitas sensor sebesar 8 MP yang dibekali dengan fitur untuk mengenali gesture gerakan tangan.

Redmi 7 dibekali dengan baterai sebesar 4000mAh yang bisa dioptimalkan sehingga mampu bertahan hingga 400 jam waktu standby.

Untuk bodi belakangnya sendiri, meskipun berbahan plastik, namun dilengkapi dengan P2i nano hydrophobic coating sehingga menciptakan efek daun talas yang berguna agar bodi tahan dengan cipratan air dan keringat. Bodi belakang ini hadir dengan tiga pilihan warna, yakni Comet Blue, Lunar Red, dan Eclipse Black.

Di China, Redmi 7 dibanderol dengan harga mulai dari 699 Yuan atau sekitar Rp1,5 juta untuk varian RAM 2GB+ROM 16GB, 799 Yuan atau sekitar Rp1,7 juta untuk varian RAM 3GB+ROM 32GB, dan 999 Yuan atau sekitar Rp2,1 juta untuk varian dengan RAM 4GB+ROM 64GB. Apakah harga ini sama atau malah lebih mahal ketika dirilis di Indonesia? Kita tunggu saja.

2019-03-19

Xiaomi Black Shark 2, Usung Chipset Mutakhir dan Pendingin Teknologi Baru

Xiaomi akhirnya merilis suksesor smartphone seri gaming mereka, Black Shark. Meskipun jaraknya cukup lama, Mi Fans dan para pecinta gaming tentu menantikan smartphone yang dibekali dengan teknologi terbaru ini.

Sesuai dengan nama pendahulunya, smartphone ini diberi nama Black Shark 2. Nama yang masih sama pun berlanjut ke sisi desain yang juga tak terlalu berbeda. Namun Xiaomi membenamkan aneka spesifikasi terbaru yang lebih canggih dibandingkan yang lama.


Teknologi di dalam smartphone gaming ini salah satunya adalah 'kamar pendingin' yang berisi cairan. Pendingin ini merupakan teknologi generasi ketiga yang diklaim mampu menurunkan suhu hingga 14 derajat.

Pendingin ini kelak berguna untuk mendinginkan chipset Snapdragon 855 dengan grafis Adreno 640. Spesifikasi ini tentu kabar baik, sebab chipset terbaru dari Qualcomm itu merupakan chipset canggih dengan pengoperasian yang hemat daya dan tahan panas.

Ada tiga pilihan RAM untuk Black Shark 2, yakni 6 GB, 8 GB, dan 12 GB. Untuk memorinya sendiri ada dua pilihan yakni 128 GB dan 256 GB. Sementara itu untuk menopang dayanya diserahkan pada baterai berkapasitas 4.000 mAh.

Di bagian depan ada layar AMOLED dengan aspek rasio 19,5:9 selebar 6,39 inci. Selain cukup lebar untuk bermain game, layar ini memiliki akurasi warna yang cukup baik dan ditunjang dengan latensi sentuhan mencapai 43,5 ms. Pada layar ini juga disematkan pemindai sidik jari.

Sektor kameranya, Black Shark memakai kamera belakang dengan sensor dari Sony yakni IMX586 48 MP dengan bukaan f/1.75 dan sebagai kamera sekunder memakai Samsung S5K3M5 12 MP dengan bukaan f/2.2.

Soal harga, Xiaomi memang hobi merusak pasar, sebab di China smartphone ini dibanderol dengan harga 3199 Yuan atau setara Rp6,7 juta untuk versi RAM 6 GB memori 128 GB. Untuk RAM 8 GB memori 128 GB dibanderol dengan harga 3499 Yuan atau setara dengan Rp7,3 juta. Lalu versi tertinggi, RAM 12 GB dan memori 256 GB dibanderol dengan harga 4199 Yuan atau sekitar Rp8,9 juta.

Sayangnya, Xiaomi kemungkinan tidak akan membawa resmi smartphone gaming ini ke Indonesia sebagaimaba Black Shark pertama. Tapi siapa tahu kali ini Xiaomi berani.

2019-03-17

Harga dan Spesifikasi Oppo F11 dan Oppo F11 Pro

Perusahaan riset Canalys menyebut kalau pasar smartphone Indonesia tumbuh dengan konsisten di akhir tahun 2018. Perusahaan yang berbasis di Singapura ini mengindikasikan kalau minat konsumen untuk melakukan upgrade smartphone-nya cukup tinggi.


Minat ini tentu dibaca oleh pabrikan smartphone yang memasarkan produknya di Indonesia. Salah satunya Oppo. Pabrikan asal China ini memang cukup agresif di pasar Indonesia. Itulah sebabnya, menurut hasil riset Canalys, merek yang satu ini cukup kokoh dengan market share 19,5% pada kuartal akhir 2018.

Pada Maret ini pun, Oppo merilis dua smartphone seri F dengan nama Oppo F11 dan Oppo F11 Pro. Buat yang mengikuti sepak terjang Oppo, dirilisnya dua smartphone Oppo seri F ini tentu sebuah kabar baik. Pasalnya Oppo sempat menyebut kalau seri F akan dihentikan.
Penghentian ini disebabkan ‘kesuksesan’ Oppo sendiri dalam mempromosikan jargon “Selfie Expert” lewat seri F. Imaji tentang ahlinya ahli, eh maaf, ahlinya swafoto ini masih terbawa hingga Oppo Find X. Padahal smartphone flagship tersebut merupakan smartphone dengan spesifikasi kelas wahid dengan beberapa fitur nan canggih.

Keputusan untuk mengentikan seri F ini mungkin diralat oleh Oppo setelah mempertimbangkan hasil yang digapai Oppo R17 Pro. Citra Oppo sebagai smartphone yang dibuat untuk swafoto sedikit pudar oleh smartphone tersebut. Itulah sebabnya Oppo F11 dan F11 Pro kemudian dirilis.

Hijrah ini pun ditandai dengan hadirnya jargon baru yakni “Portrait Master”. Meski masih soal kamera, jargon ini mengindikasikan kalau Oppo sekarang menjual teknologi yang lebih canggih, bukan semata foto wajah yang kinclong berlebihan hasil olah software.

Perbedaan yang tampak antara Oppo F11 dan Oppo F11 Pro dari sisi tampilan adalah keberadaan waterdrop notch alias poni tetes air yang dimiliki F11. Poni ini menyembul diatas layar IPS LCD berdimensi 6,5 inci. Sementara Oppo F11 Pro memiliki layar IPS LCD dengan lebar 6,53 inci tanpa poni, bezel tipis, dan memiliki screen-to-body ratio sebesar 90,90%. Layar ini disebut Oppo sebagai Panoramic Screen.

Absennya poni pada layar Oppo F11 Pro menuntut pabrikan untuk membuat desain pop-up guna memunculkan kamera depan dari dalam bodi. Mekanismenya mirip Vivo V15, cuma Oppo F11 Pro menempatkan pop-up kamera depan dan belakang ini di tengah, bukan di sisi kiri. Kalau dilihat dari sisi desain, lumrah sih ada mirip-miripnya, namanya juga saudara.

Sebagai penegas kalau sudah hijrah dari ahlinya swafoto ke Portrait Master, Oppo menempatkan kamera depan ‘hanya’ 16 MP saja dengan bukaan f/2.0 pada Oppo F11 dan F11 Pro. Resolusi ini tentu lebih kecil dibanding Oppo F9 dengan kamera depan 25 MP.

Sementara itu, kamera belakang Oppo F11 dan F11 Pro justru mengalami peningkatan dibandingkan Oppo F9 yang memiliki kamera ganda dengan resolusi 16 MP bukaan f/1.8 dan 2 MP bukaan f/2.4. Oppo F11 dan F11 Pro memiliki kamera ganda di belakang dengan resolusi 48 MP bukaan f/1.8 dan 5 MP bukaan f/2.4. Namun secara default, kamera hanya akan menangkap gambar dengan resolusi 12 MP saja. Untuk mendapatkan resolusi penuh 48 MP, pengguna mesti mengatur agar kamera mengambil gambar dengan mode “Ultra HD”.

Kamera belakang ini diklaim Oppo mampu membaca pemetaan wajah, fitur muka, dan warna kulit dengan lebih baik. Dengan bertumpu pada fokus terhadap potret inilah kenapa Oppo menyebut Oppo F11 dan Oppo F11 Pro sebagai “Portrait Master” dan menghentikan “Selfie Expert”.

Fitur pada kamera belakang itu hadir berkat adanya teknologi AI Ultra-clear Engine. Teknologi ini terdiri atas tiga komponen yang disebut AI Engine, Ultra-clear Engine, dan Color Engine.

Saat AI Engine dipadukan dengan Ultra-clear Engine, kamera mampu menghasilkan Ultra Night Mode. Dalam mode ini, algoritma bakal memadukan tujuh foto dalam kondisi yang kurang cahaya untuk menghasilkan satu foto dengan pencahayaan yang seimbang dan rendah noise.
Sementara itu ketika AI Engine bergabung dengan Color Engine, maka hadirlah Dazzle Color Mode. Mode ini membuat kamera mampu mengenali berbagai jenis pemandangan pada kondisi cahaya yang bagus. Lewat bantuan Algoritma Pixel-grade, mode ini mampu memetakan kurva warna untuk menyempurnakan hasil foto.

Dengan berbagai fitur kamera belakang yang menjanjikan, kamera depan tetap mendapatkan porsi yang sesuai, baik yang berada pada poni di layar Oppo F11 maupun pop-up pada Oppo F11 Pro. Kamera depan ini telah dibenamkan software Beautification 2.0 yang diklaim mampu mengenali 137 data titik wajah sehingga bisa menciptakan hasil foto yang lebih cakep dari aslinya halus.

Dapur pacu Oppo F11 dan F11 Pro sama-sama memakai MediaTek Helio P70 dengan prosesor delapan inti berkecepatan maksimal 2.1 GHz. Perbedaan antara dua smartphone ini terletak pada konfigurasi RAM dan memori saja.

Oppo F11 dipasarkan dengan RAM 4 GB dan memori 128 GB, sementara Oppo F11 Pro hadir dengan RAM 6 GB dan memori 64 GB. Buat yang membutuhkan memori lebih besar lagi, keduanya bisa ditambahkan dengan memori eksternal hingga 256 GB yang bisa dipasang melalui slot hybrid.

Kedua smartphone sudah memakai ColorOS 6.0 yang berbasis Android 9.0 Pie. Software kustomisasi Oppo ini memungkinkan perangkat untuk memakai fitur fast charging VOOC 3.0. Fitur pengisian cepat ini memungkinkan catu daya yang dimiliki kedua smartphone sebesar 4000 mAh tersebut bisa diisi dari 0 % hingga 100 % hanya dalam waktu 80 menit saja.

Seandainya kedua smartphone ini sudah memakai USB Type C, fitur VOOC tersebut mungkin bisa lebih cepat lagi dalam mengisi baterai. Sayangnya, port micro-USB 2.0 masih dipilih Oppo untuk input daya maupun data pada keduanya.

Soal harga, Oppo membanderolnya sedikit lebih mahal dibanding saudara-rasa-kompetitor yang tempo hari merilis Vivo V15 dengan harga Rp4.399.000. Dengan spesifikasi yang hampir serupa, Oppo F11 Pro dibanderol denga harga Rp4.999.000 dengan ketersediaan warna Thunder Black dan Aurora Green. Sementara Oppo F11 dibanderol dengan harga Rp3.999.000 dengan ketersediaan warna Fluorite Purple dan Marble Green.

Untuk yang membutuhkan hasil gambar yang baik, kedua smartphone ini merupakan jawaban yang cukup masuk akal di rentang harga senilai itu. Hanya saja buat yang lebih mementingkan fitur dapur pacu saja dengan rentang harga dibawah itu, tentu bukanlah pangsa pasar yang sedang digarap Oppo.

Spesifikasi:



Review Vivo V15, Smartphone Berkamera Depan Pop-Up Termurah

Vivo menjadi satu-satunya brand smartphone di Indonesia yang agak ‘nyeleneh’ soal perilisan smartphone terbaru. Pasalnya daripada ndakik-ndakik membahas spesifikasi yang mendetail, Vivo lebih mengutamakan nuansa entertainment.



Nuansa tersebut tentu dipilih karena Vivo memilih jalur blocking stasiun televisi untuk publikasi. Vivo memilih cara ini sejak Vivo V7+ dan V9. Saat kita menganggapnya sebagai pemborosan, Vivo Indonesia menganggapnya sebagai investasi. Mungkin inilah yang membuat Vivo, menurut periset pasar Canalys, mendapat angka pertumbuhan pada kuartal 4 tahun 2018 sebesar 132 %, dengan angka market share sebanyak 15,9 % alias keempat terbesar di Indonesia.

Vivo pun kembali melakukannya saat perilisan Vivo V15 pada Selasa (5/3) malam lalu. Bertempat di Taman Air Mancur Sri Baduga Purwakarta, Jawa Barat, Vivo kembali melakukan blocking lima stasiun televisi untuk mempublikasikan smartphone terbarunya ini.

Ya memang sih, tanpa menyimak rubrik Konter di Mojok, mungkin agak sulit bagi publik untuk mengingat spesifikasi detail dari Vivo V15 ini. Khalayak bakal lebih mengingat Young Lex Maudy Ayunda yang bernyanyi diatas perahu daripada chipset apa yang dipakai Vivo V15 dan berapa kecepatan clock speed-nya.

Vivo V15 memiliki dapur pacu yang juga dipakai oleh Realme 3 dan Oppo F11, yakni MediaTek Helio P70 dengan grafis Mali-G72 MP3. Sebetulnya suka kasihan dengan MediaTek, sebab meski berjasa memberikan harga yang lebih terjangkau, ia kerap diabaikan oleh pabrikan. Bukti yang paling sahih adalah sering tidak ditulisnya logo MediaTek di dus smartphone maupun spesifikasi di situs resmi.

Penjelasan tentang MediaTek jenis apa yang dipakai biasanya ditemukan sekilas saat presentasi produk untuk media dan influencer. Pada spesifikasi di situs resmi Vivo Indonesia hanya tertulis bahwa V15 memakai prosesor octa-core dengan kecepatan 2,1 GHz.

Chipset ini menjalankan software FunTouch 9.0 based Android Pie dan ditopang oleh baterai yang lumayan besar, yakni 4000 mAh. Sayangnya meski support fast charging, selain masih memakai port micro-USB, Vivo juga tidak memberikan charger yang mendukung fitur tersebut.

Buat yang gandrung dengan skor benchmark, Vivo V15 dengan Helio P70 rata-rata mendapatkan skor sebesar 137.000-an. Skor yang sedikit lebih kecil dibandingkan chipset Snapdragon 660 yang dipakai Asus Zenfone Max Pro M2, Realme 2 Pro, serta Mi 8 Lite, dan Vivo V11 Pro.

Vivo V15 hanya dipasarkan di tanah air dengan dua warna, yakni Royal Blue dan Glamour Red, dengan kapasitas RAM 6 GB dan memori internal 64 GB. Kapasitas penyimpanan bisa ditambahi dengan keberadaan slot memori eksternal yang mendukung hingga 256 GB. Namun diluar negeri, selain dua hal itu, Vivo memberikan opsi lain, yakni ‘opsi’ upgrade spesifikasi dengan meminang sang kakak, Vivo V15 Pro.

Dari segi tampilan, Vivo V15 memiliki desain yang lumayan orisinal. Maksudnya orisinal ‘cetakan’ BBK Electronics, sebab Oppo F11 pun memakai desain yang hampir serupa. OnePlus mungkin bakal mengadopsinya pula.

Desain Vivo V15 di bagian belakang terkesan kembali ke zaman ketika era ponsel Symbian ala Nokia berjaya. Pada smartphone sebelumnya, baik Vivo seri V dan seri Y, bingkai kamera hanya membulat di sekitar lensanya saja. Namun pada Vivo V15, tiga kamera di belakang punya bingkai dengan bentuk sendiri.

Warna gradasi masih dipakai sebagai penanda kalau smartphone ini lahir di rentang 2018 dan 2019 dimana desain warna ini cukup mainstream dipakai oleh pabrikan. Sementara itu, berbeda dengan Vivo V15 Pro, smartphone ini masih memakai fingerprint scanner di belakang. Jadi penampakan bodi belakangnya tidak polos seperti kakaknya itu.

Keberadaan fingerprint scanner yang tidak ditempatkan di layar disebabkan Vivo V15 hanya memakai layar IPS LCD, bukan Super AMOLED yang bisa dipasangi in-display fingerprint scanner layaknya sang kakak. Layar ini memiliki resolusi 2340 x 1080 FHD+ dengan bentang seluas 6,53 inci dan rasio 19,5:9.

Salah satu keunggulan Vivo V15 adalah keberadaan layar yang hampir penuh. Angka rasio layar ke bodinya mencapai 90,95%. Vivo menyebutnya sebagai Ultimate All Screen. Keunggulan ini disebabkan inovasi Vivo yang sudah dipakai sejak Vivo Nex terdahulu, yakni kamera depan yang muncul dari dalam bodi.

Ya, berkat kamera depan sebutan kamera pop-up ini, poni –apapun bentuk poninya—tidak relevan lagi disebut sebagai fitur. Poni hanyalah ruang ‘konsensus’ antara keinginan pabrikan untuk meninggikan rasio layar ke bodi dengan penempatan kamera depan, proximity sensor, dan earpiece.

Relevansi antara poni dengan tingginya rasio tersebut dimentahkan dengan keberadaan kamera slider pada Oppo Find X dan Mi Mix 3, serta pop-up pada kamera Vivo V15. Kamera depan dengan resolusi 32 MP dan fitur AI Face Beauty tersebut akan muncul ketika pengguna ingin memotret secara selfie.

Buat yang khawatir soal ketahanan motor yang menggerakkan pop-up tadi, Vivo menggaransi mekanisme ini tahan hingga 5 tahun dengan penggunaan selfie maksimal 30 kali dalam satu hari. ~Ehmmm...siapa yang sefie-nya sebanyak itu, ya?

Kamera depan memang senantiasa menjadi fitur unggulan yang selalu dipromosikan Vivo. Apalagi kehadiran kamera pop-up dengan resolusi besar pada Vivo V15 kali ini. Namun bukan berarti Vivo meninggalkan sektor kamera belakang begitu saja.

Ada tiga kamera belakang yang dimiliki Vivo V15. Kamera pertamadisebut Depth Camera sebab dengan resolusi 5 MP, kamera ini bakal membuat bokeh jika diperlukan. Kemudian dipisahkan oleh LED flash, ada kamera AI Super Wide-Angle Camera dengan resolusi 8 MP yang mampu membuat foto dengan sudut yang lebar hingga 120 derajat. Di bawahnya ada kamera utama yang memiliki resolusi 12 MP dengan 24 juta unit fotosensitif, yang diklaim membuat hasil foto lebih jernih dan terang.

Ada yang bilang acara hiburan yang dihelat Vivo kerap memunculkan smartphone yang overprice. Untunglah pada Vivo V15 kali ini, harga yang ditawarkan cukup kompetitif di kelasnya. Pasalnya baru kali ini smartphone dengan fitur kamera pop-up dibanderol dibawah lima juta, tepatnya Rp4.399.000.

Buat para penggemar selfie atau mereka yang kerap terganggu poni namun menginginkan layar yang penuh, ya di Vivo V15 inilah jawabannya. Tapi buat yang mengincar spesifikasi untuk bermain game kelas menengah, namun harganya dibawah Vivo V15, opsinya memang masih cukup banyak. Pilihan selalu di tangan anda.



Pernah dimuat di Mojok.co

2019-03-16

Hoax Ternyata Meningkat Jelang Pemilu 2019

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) merilis hasil laporan yang cukup mencengangkan. Komunitas yang memfokuskan diri dalam pemberantasan informasi palsu atau yang kerap disebut hoax ini merilis data ihwal hoax yang ternyata eskalasinya meningkat jelang pemilihan umum tahun 2019.

Kampanye "Stop Hoax" oleh Mafindo. (Gambar: Katadata)
Jumlah hoax yang berhasil didata dan diverifikasi sebagai hoax oleh Mafindo sejak 2018 sampai dengan Januari 2019 cukup banyak. Jumlah hoax pada tahun 2018 mencapai 997 hoaks dan 488 hoax (49,94%) diantaranya bertema politik. Dari 488 hoaks tersebut, Mafindo mencatat terdapat 259 hoax dengan tema politik sejak Juli sampai dengan Desember 2018. Sedangkan jumlah hoax pada bulan Januari 2019, sebesar 109 buah dengan 58 hoaks diantaranya bertema politik.

Ketua Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, mengatakan bahwa meningkatnya jumlah hoax dengan tema politik yang berhasil kami verifikasi sebagai hoax atau disinformasi, berpotensi mengancam kualitas pesta demokrasi terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia.

"Ia tak hanya akan merusak akal sehat calon pemilih, namun juga mendelegitimasi proses penyelenggaraan pemilu, dan lebih parahnya mampu merusak kerukunan masyarakat yang mengarah perpecahan bangsa,” ungkap Septiaji dalam keterangan persnya.

Lebih jauh Septiaji mengungkapkan bahwa 259 hoax dengan tema politik sejak Juli-Desember 2018 tesebut menyasar kepada Pasangan calon Presiden dan Wapres nomor urut 01 dengan 75 hoax atau sebesar 28,96%, Pemerintah (Kementerian atau Lembaga) 60 hoax atau sebesar 23,16%, Figur terkemuka 57 hoaks atau sebesar 22,01 %, Pasangan calon Presiden dan Wapres nomor urut 02 dengan 54 hoaks atau sebesar 20,85%, Parpol dengan 9 hoaks atau sebesar 3,48% %, Pemda sebesar 4 atau sebesar 1,54%.

Sedangkan pada bulan Januari 2019, jumlah hoax mencapai 109 buah dengan hoax politik mendominasi sebesar 58 buah disusul oleh hoax ‘lain-lain’ 19 buah dan hoax kriminalitas sebanyak 7 buah. Adapun 58 hoax politik tersebut menyasar kepada Paslon 02 sebesar 21 hoaks atau sebesar 36,20 %, Paslon 01 sebesar 19 hoax atau sebesar 32,75 %, Pemerintah K/L sebesar 8 hoax atau sebesar 13,79 %, Figur terkemuka sebesar 7 hoaks atau sebesar 12,06 %, Parpol dengan 3 hoax atau 5,17 %, sementara Pemda Nihil.

Dampak Kerusakan Akibat Hoax

Septiaji memberikan catatan bahwa jumlah angka hoax politik yang tertera tersebut belum mencerminkan dampak atau tingkat kerusakannya. Ada hoax yang bisa lebih merusak ketimbang hoax yang lain. Demikian juga jenis hoax yang menyasar sebuah kelompok, ada yang jenis hoax positif yang bisa jadi dibuat oleh pendukungnya sendiri.

Ketua Mafindo ini menyebut tren kenaikan jumlah penyebaran hoax ini memprihatinkan, karena ruang publik khususnya di media sosial dan group percakapan lebih banyak diisi dengan perdebatan kosong dengan topik hoax daripada adu argumen tentang program ataupun topik lain yang lebih substansial.

“Kami memohon agar meningkatnya jumlah hoax ini harus diantisipasi oleh para politisi. Jangan sampai malah dimanfaatkan untuk menambah keuntungan secara elektoral,” tambah Septiaji.

Mafindo juga mencatat sejak Juli hingga Desember 2018, Facebook masih menjadi sarana penyebaran hoaks yang paling dominan diikuti oleh WhatsApp dan Twitter.

Santi Indra Astuti, Ketua Komite Litbang Mafindo, menjelaskan bahwa semester II tahun 2018 bentuk hoaks yang paling banyak adalah gabungan antara foto/narasi sebesar 45,25% diikuti oleh narasi saja sebesar 30,63% dan video/narasi sebesar 14,22%.

“Namun kita melihat pada bulan Januari 2019, komposisinya sedikit berubah dengan 34,86% berupa narasi saja, kemudian gabungan foto/narasi sebanyak 28.44% dan video/narasi sebanyak 17.43%. Kenaikan jumlah hoaks berbentuk video, mengindikasikan kian canggihnya bentuk hoaks yang beredar di masyarakat,” jelas Santi.

Septiaji meminta masyarakat harus memahami bahwa hoaks itu berbahaya bagi masa depan bangsa. Menurutnya masyarakat juga harus memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih mana berita yang benar dan yang keliru.

"Solusinya masyarakat mesti melek literasi agar ketahanan di dunia digital bisa lebih baik," pungkasnya.

2019-03-15

Android Q Sudah Dirilis Untuk Pengguna Pixel

Android Q ternyata sudah dirilis untuk pengguna smartphone Pixel. Pembaruan yang dikenalkan oleh Google pada Rabu (12/3) ini merupakan suksesor dari Android Pie. Meski Android yang belum bernama ini masih dalam versi beta, namun ada beberapa fitur menarik yang membuat banyak orang terkesima.

Google Pixel 3 yang sudah di-update Android Q. (Gambar: BGR.com)
Ada beberapa fitur unggulan dari Android Q ini, salah satunya adalah fitur dark mode. Kalau pada Android sebelumnya fitur dark mode alias mode gelap hanya bisa diterapkan pada beberapa aplikasi saja, pada Android versi ini ternyata bisa diterapkan semuanya.

Fitur lain yang tak kalah canggih juga disematkan untuk mendukung pengguna yang memakai smartphone lipat yang mulai dikenalkan beberapa pabrikan akhir-akhir ini. Selain itu, fitur keamanan pun telah ditingkatkan untuk mode developer pada Android Q. Jadi para pengguna bisa lebih mengatur kontrol privasi pada Android ini.

Kontrol privasi ini memungkinkan pengguna bisa mengatur izin deteksi lokasi dimana perangkat sedang dipergunakan. Jadi kalau fitur ini dinyalakan, maka aplikasi yang terinstal tidak bisa mendeteksi lokasi smartphone. Misalnya pada Google Maps, dimana saat aplikasi ini tidak dijalankan, biasanya fitur deteksi lokasinya terus berjalan tanpa sepengetahuan pengguna. Nah, pada Android Q hal ini tidak terjadi. Fitur deteksi lokasi hanya bisa berjalan ketika penggunanya benar-benar mengizinkannya.

Ada juga fitur yang menarik dari Android Q. Ya memang sih fitur ini bisa didapatkan dengan menginstal aplikasi pihak ketiga, namun hal yang berbeda ketika fitur ini hadir dari sistem operasinya sendiri. Ya, fitur ini adalah fitur screen recording alias perekaman aktivitas layar. Cara mengaksesnya hampir sama seperti mengambil screenshot pada Android sebelumnya, yakni menekan tombol volume down dan power bersamaan.

Prediksi Nama Android Q

Untuk saat ini Google memang belum memberi nama apalagi sudah bersiap-siao membuat tebak-tebakan nama Android ini. Namun seperti biasa, di internet sudah berseliweran nama-nama untuk menyebut huruf 'Q' dari Android Q. Beberaa diantaranya adalah Qurabiya, Quindim, Queen of Puddings, Qottab, Quesito, Queijadinha, maupun Quirks.

Nama-nama tersebut merupakan nama makanan di seluruh dunia yang rasanya manis. Ya, makanan manis memang menjadi ciri khas Google dalam memberi nama Android terbarunya. Lalu, anda punya usul apa?

2019-03-12

Harganya 'Gokil'! Realme 3 Hadir dengan MediaTek Helio P60

Realme 3 akhirnya hadir di Indonesia. Bertempat di Ballroom Hotel Pullman, Central Park, Jakarta pada Selasa (12/3) jelang sore, anak dari Oppo ini merilis Realme 3 dengan mempertahankan spesifikasi yang cakep namun harga yang cukup terjangkau.


Realme 3 hadir dengan spesifikasi yang memang menawan untuk kelasnya. Dengan dapur pacu MediaTek Helio P60 dan kecepatan prosesor 2.0 GHz, rata-rata skor AnTuTu-nya mencapai 133-ribuan.

Dapur pacu ini dipergunakan untuk menjalankan software Color OS 6.0 yang notabene kustomisasi ala Oppo yang terbaru dengan berbasis Android Pie. Proses jeroan ini bakal ditenagai oleh baterai dengan kapasitas 4230 mAh.

Pada bagian depan, Realme 3 hadir dengan bentang layar seluas 6,2 inci dengan panel IPS LCD. Panel ini dilindungi oleh coating dari Gorilla Glass 3. Layar ini menggunakan poni jenis dewdrop untuk menempatkan kamera depan dengan resolusi 13 MP dengan bukaan f/2.0.

Kamera depan ini menggunakan AI Beauty 2.0 yang mampu mengenali 296 titik. Namun unggulannya bukan berada di kamera depan. Realme 3 memiliki unggulan di kamera belakang dengan teknologi Chroma Boost Mode dan Nightscape Mode.

Teknologi Chroma Boost secara teknis akan menggabungkan beberapa gambar dalam satu jepretan untuk menghasilkan warna, tone, dan cahaya yang terbaik dalam satu foto. Sementara Nightscape Mode memungkinkan hasil potret yang terang yang dihasilkan dari berbagai skenario gambar dalam satu jepretan.

Dua teknologi ini berjalan pada kamera 13 MP dengan bukaan f/1.8 dan 2 MP dengan bukaan f/2.4 yang telah dibekali dengan AI scene recognition. Kamera ini juga bisa merekam video dengan resolusi HD pada frame rate 90 fps.

Untuk harganya sendiri, banyak pihak cukup memuji langkah Realme soal ini. Sebab dengan harga Rp1.999.000 untuk varian RAM 3 GB dan memori 32 GB, Realme jelas menggiurkan. Apalagi ada promo 100 unit saja di Lazada yang membanderol smartphone ini dengan harga Rp1.799.000.

Sementara itu untuk varian RAM 3 GB dan memori 64 GB dibanderol Rp.2.099.000 dan varian RAM 4 GB dan memori 64 GB dibanderol Rp2.399.000. Jadi, anda mau yang mana?

2019-03-10

Honor 10 Lite Hadir dengan Kamera Selfie 24 MP dan Chipset Kirin 710

Penetrasi Honor di Indonesia terbilang cukup agresif. Sejak hadir di Indonesia setahun lalu, anak kandung Huawei ini cukup rajin membawa smartphone-nya ke tanah air. Terakhir, Honor membawa versi ‘ringan’ dari Honor 10, yakni Honor 10 Lite. Smartphone ini dirilis bersamaan dengan Honor 8A.

Honor 8A dan Honor 10 Lite merupakan salah satu bukti agresivitas Honor di Indonesia. Hadir dengan dua target pasar berbeda, yakni entri-level dan mid-range, keduanya menjadi produk kesepuluh dan kesebelas dari pabrikan yang telah ‘merdeka’ dari Huawei sejak 2013 tersebut. Jadi kalau dirata-rata, setiap bulannya Honor merilis satu smartphone di negeri ini.


Agresivitas tersebut menjadi bukti kalau Honor tidak patah arang dengan kerasnya pasar smartphone di Indonesia. Dengan kehadiran Honor 10 Lite, Honor tampaknya ingin melapis kehadiran Honor 8X yang cukup terpukul dengan dirilisnya Asus Zenfone Max Pro M2 maupun Mi 8 Lite. Mereka bersaing secara ketat di pasar smartphone mid-range.

Pada brand lain, versi utama dan versi lite biasanya dikenalkan secara bersamaan. Sehingga pembeli memiliki pilihan pada saat yang bersamaan. Namun Honor tidak begitu. Mereka merilis versi lain, baik versi ‘lite’ maupun versi ‘pro’ dengan waktu yang cukup berjarak. Honor 9, misalnya, dirilis pada bulan Juni 2017, sementara Honor 9 Lite dirilis pada Desember 2017. Nah, kebiasaan Honor ini berlaku pula pada Honor 10 Lite.

Honor 10 Lite sendiri telah dirilis pada November 2018 lalu. Smartphone ini tentu membawa nama besar Honor 10 yang notabene tergolong sebagai kelas flagship sebab memakai chipset Kirin 970. Namun dapur pacu mentereng dan desain yang mewah tentu saja absen pada Honor 10 Lite. Pemilihan nama ini saya duga hanya kecerdikan Honor semata untuk tetap menjaga popularitas nan kembang-kempis dari Honor 10 yang telah dirilis sejak Mei 2018.

Kalau disandingkan, mungkin banyak yang menolak kalau Honor 10 dan Honor 10 Lite merupakan saudara. Kalau boleh disebut, Honor 10 Lite merupakan smartphone yang baru. Mau dibilang suksesor, kok ya ada ‘lite’-nya dan tentu spesifikasinya mengalami donwgrade. Tapi mau dibilang apapun, ya suka-suka Honor saja.

Dari sisi desain, kemewahan bodi kaca yang membalut Honor 10 memang absen pada Honor 10 Lite. Material ini diganti dengan bodi plastik yang diberi sentuhan yang sama, yakni sentuhan gradasi yang sangat mainstream pada smartphone kekinian.

Kalau boleh dimiripkan, bodi belakang Honor 10 Lite lebih mirip dengan Honor 8X. Penempatan kamera yang vertikal, dengan memakai bingkai terpisah, menandakan dengan jelas kalau kedua smartphone itu memakai kamera ganda. Juga ada LED flash dan tulisan AI Camera yang menandakan teknologi artificial intelligence sudah disematkan pada kamera ganda ini. Fingerprint scanner juga berbentuk bulat yang diletakkan di tengah.

Logo Honor juga diletakkan sejajar dengan penempatan tulisan, flash, dan kamera ganda tersebut. Meski berbeda, namun style khas Huawei P20 Pro ini memang cukup inspiratif. Desain semacam ini memungkinkan pengguna smartphone bak memakai kamera konvensional kala mengambil foto secara landscape.

Setup kamera ganda ini memiliki fungsi untuk mengoptimalkan bokeh artifisial. Sebab selain kamera 13 MP dengan bukaan f/1.8 yang digunakan untuk memotret kondisi normal, mode AI, dan mode malam, kamera kedua dari Honor 10 Lite dengan resolusi 2 MP dan bukaan f/2.4 berfungsi sebagai depth sensing. Fungsi ini bekerja menciptakan efek buram pada latar belakang objek ketika kamera menjalankan mode potret.

Target Honor untuk menyasar kawula muda millenial diwujudkan salah satunya dengan keberadaan kamera selfie yang cukup menarik minat pada Honor 10 Lite. Kamera yang ditempatkan di poni tetes air ini memiliki resolusi sebesar 24 MP dengan mode AI dan bukaan lensa f/2.0. Kamera depan ini dibekali dengan fitur digital yang justru lebih banyak dibandingkan kamera belakang.

Layar berponi tetes air pada Honor 10 Lite ini memiliki bentang 6,21 inci dengan panel IPS LCD yang memiliki resolusi Full HD 2340x1080. Memang sedikit lebih kecil dibanding Honor 8X yang memakai layar 6,5 inci, namun layar pada Honor 10 Lite punya rasio kontras yang sedikit lebih baik. Ya sedikit. Dimana menurut hasil uji GSM Arena, Honor 10 Lite mendapat angka 1282, sementara Honor 8X mendapatkan 1234.

Honor 10 Lite sudah hadir dengan Android 9 yang dikostumisasi seperti biasanya, yakni dengan user interface EMUI khas Huawei Honor. Versi yang terpasang pada saat pembelian sudah EMUI 9.0 yang tidak memiliki perbedaan mendasar dengan EMUI 8.2 yang hadir pada Honor 8X. Masih sama-sama smooth dan tentu saja tanpa iklan!

Dapur pacu Honor 10 Lite sama dengan yang dipakai Honor 8X, yakni HiSilicon Kirin 710. Chipset pabrikan in-house Huawei ini tergolong kedalam kelas mid-range sehingga menggolongkan Honor 10 Lite kedalam kelas yang sama. Kirin 710 memiliki delapan inti prosesor, dengan empat inti berkecepatan 2,2 GHz Cortex-A73 dan empat inti Cortex-A53 berkecepatan 1,7 GHz.

Dengan proses manufaktur 12nm, Kirin 710 dipasangkan juga dengan GPU Mali-G51. Untuk RAM dan memori internal, Honor 10 Lite memiliki pilihan RAM 6 GB dengan dua pilihan memori internal, yakni 64 GB dan 128 GB. Pilihan ketiga ada RAM 4 GB dan memori internal 64 GB. Di Indonesia, hanya pilihan ketiga saja yang dibawa oleh Honor.

Dapur pacu Honor 10 Lite ini mendapat skor AnTuTu rata-rata sebesar 130.000-an. Jadi buat kebutuhan gaming standar, Honor 10 Lite sangat bisa diandalkan, apalagi buat para pemain Mobile Legends dan PUBG Mobile. Sebab smartphone ini sudah dipasangi GPU Turbo 2.0, yang mana kedua game itu sudah mendukung fitur ini.

Untuk prediksi di pasaran, pada rentang harga Rp3.299.000, Honor 10 Lite sepertinya akan sulit bertarung. Di rentang harga sebesar ini, Honor 10 Lite tidak memiliki senjata yang cukup potensial untuk membunuh lawannya. Seperti dalam perekaman video, absennya stabilisator dan perekaman 4K menjadi salah satunya. Ketiadaan fitur fast charging untuk mengisi baterai 3400mAh, sebab masih memakai port USB 2.0, juga jadi tambahan alasan untuk mencoret Honor 10 Lite dari daftar smartphone idaman.

Cuma buat yang mau mencicipi kecanggihan Kirin 710, fitur GPU Turbo, maupun tanpa iklan smooth-nya user interface EMUI, maka tentu saja Honor 10 Lite layak dipertimbangkan.

Artikel ini diterbitkan pertama kali di Mojok.co

2019-03-07

Mudahnya Membuat Mode gelap di Facebook Messenger

Saat ini banyak aplikasi yang membenamkan fitur 'dark mode' alias mode gelap dimana warna latar belakang aplikasi menjadi hitam pekat. Fitur ini selain mendukung mereka yang matanya gampang silau, juga berguna dalam membantu penghematan baterai smartphone.


Facebook Messenger pun sebetulnya sudah punya fitur mode gelap semacam ini. Namun fitur pada aplikasi percakapan instan yang dimiliki Facebook ini belum banyak digunakan oleh penggunanya.

Untuk mengaktifkan fitur mode gelap pada Facebook Messenger memang menjadi semacam easter egg alias kejutan yang hanya bisa diaktifkan dengan melakukan sesuatu. Nah, itulah kenapa mode gelap ini jarang yang menggunakannya bukan karena tidak mau tampilannya jadi gelap, namun karena banyak yang belum mengetahui cara mengaktifkannya.

Cara mengaktifkan mode gelap cukup mudah. Anda tinggal mengirim emoji bulan sabit (☽) ke satu orang dalam Facebook Messenger. Satu orang ini bisa siapapun. Ya cuma mengirim satu emoji bulan sabit tersebut ke satu orang teman anda.

Sesaat setelah emoji itu terkirim, maka sebuah hujan bulan sabit akan berjatuhan memenuhi layar aplikasi Facebook Messenger. Setelahnya ada notifikasi di bagian atas yang memunculkan keterangan kalau anda sudah menemukan mode gelap. Untuk mengaktifkannya, anda hanya perlu mengklik tulisan "Try It in Settings" di bagian bawah notifikasi tersebut. Dan warna latar belakang Facebook Messenger anda akan berubah menjadi hitam pekat.


Pada mulanya Facebook membatasi mode gelap ini hanya untuk negara tertentu saja. Namun pada pembaruan Facebook Messenger yang paling mutakhir, semua orang di negara manapun bisa menggunakannya. Selamat mencoba.

2019-03-05

Inilah Harga dan Spesifikasi Vivo V15 di Indonesia

Kuartal pertama pada tahun 2019 ini, Vivo merilis dua smartphone terbaru mereka, V15 dan V15 Pro. Keduanya memiliki teknologi kamera selfie motorik seperti yang pertama kali dipakai oleh Vivo Apex. Sayangnya, untuk pasar Indonesia, Vivo hanya merilis V15 saja di tanah air.

Vivo V15 warna Royal Blue dan Glamour Red (Gambar: Kompas Tekno)
Ajang perilisan ini dihelat Vivo seperti smartphone mereka terdahulu, megah dan mewah. Bertempat di Taman Air Mancur Sri baduga Situ Buleud, Purwakarta, Jawa Barat, Vivo menggandeng beragam artis dan menayangkannya di beberapa stasiun televisi nasional untuk perilisan Vivo V15 ini pada Selasa (5/3) malam.

Lantas seperti apa spesifikasi dan harga yang dibanderol untuk bisa meminang Vivo V15 ini?

Vivo V15 mengandalkan display yang lebar dan tanpa notch. Smartphone ini memiliki bentang layar sebesar 6,53 inci yang berasio 19,5:9 Full HD+. Layar ini sudah didukung dengan desain 2.5D yang dilindungi oleh coating Gorilla Glass 5.

Ya, sekali lagi: tanpa notch, tompel, poni, atau apapun. Layar Vivo V15 mulus tanpa apapun. Disinilah Vivo mengeluarkan inovasi yang sudah jadi andalannya sejak Vivo Nex, yakni kamera depan yang muncul dari dalam bodi dalam bentuk pop-up. Kamera depan ini memiliki resolusi sebesar 32 MP.

Sementara kamera depan sudah bikin menarik dengan besaran resolusinya, Vivo pun membenamkan tiga kamera sekaligus di bagian belakang Vivo V15. Tiga kamera ini terdiri atas kamera dengan resolusi 5 MP dengan bukaan f/2.4 di bagian paling atas, kemudian ada kamera 8 MP dengan bukaan f/2.2 di tengah, dan terakhir kamera utama dengan resolusi 12 MP dengan bukaan f/1.78.

Vivo menambatkan dapur pacu chipset MediaTek Helio P70 dengan prosesor delapan inti berkecepatan 2.1 GHz pada Vivo V15. Chipset Vivo V15 ini sama dengan yang dipasarkan oleh Vivo di pasar Thailand tempo hari. Namun hanya ada satu varian yang hadir di Indonesia, yakni RAM 6GB dan memori internal 64 GB. Jika memori internal dirasa kurang, Vivo menyediakan slot memori eksternal dengan dukungan hingga 256 GB. Dapur pacu ini mendapatkan skor AnTuTu sekitar 145.000-an.

Baterai Vivo V15 memiliki kapasitas sebesar 4000mAh. Baterai yang lumayan jumbo ini juga dibenamkan fitur Dual Engine Fast Charging yang berfungsi untuk mengisi daya dengan cepat. Sayangnya, port USB yang dimiliki masih memakai Micro-USB.

Di pasar Indonesia, Vivo membawa dua jenis warna untuk Vivo V15, yakni Royal Blue dan Glamour Red. Untuk harganya sendiri, Vivo membanderol Vivo V15 sebesar Rp4.399.000. Bagaimana, anda berminat? Segera dapatkan di Vivo Store terdekat mumpung masih banyak bonus yang ditawarkan.