Samsung Galaxy A2 Core, Usung Android Go dengan Harga Rp1,1 Jutaan

Kangen dengan Samsung seri Galaxy Core yang cukup banyak dipakai pengguna level entri beberapa tahun silam? Rasa kangen itu akhirnya terobati dengan hadirnya Samsung Galaxy A2 Core yang mengusung konsep serupa dengan beberapa perbaikan.


Konsep Android Go masih menjadi inti utama dari Galaxy A2 Core. Hal yang sama pernah dipakai oleh pendahulunya yang sudah tak lagi diproduksi, yakni Galaxy J2 dan J4 Core. Android Go memang sistem operasi yang berbasis Android, namun di-bundling dengan aplikasi yang juga bertajuk Go, yakni ringan dan hanya mengonsumsi sedikit memori. Itulah kenapa konsepnya banyak dipakai oleh smartphone entry-level.

Spesifikasi Galaxy A2 Core mirip dengan dua pendahulunya, namun dengan peningkatan di ranah dapur pacu. Galaxy A2 Core diotaki oleh chipset Exynos 7870 octa-core yang dipadu dengan RAM 1 GB dan memori internal 8 GB yang bisa diperbesar kapasitasnya hingga 256 GB. RAM yang kecil ini cukup realistis menjawab kenapa A2 Core hanya memakai Android Go.

Galaxy A2 Core memakai tampilan antar muka Samsung One UI dan pengguna harus cukup puas dengan opsi Go pada setiap aplikasi bawaan Google yang ada, seperti Google Go, YouTube Go, Gmail Go, Maps Go, dan Files Go. Dengan baterai 2600mAh dan layar 5 inci, smartphone ini dibanderol dengan harga Rp1.099.000.

Rasanya, smartphone ini hanya cocok dipakai sebagai cadangan saja yang dipergunakan untuk kebutuhan primer alat komunikasi. Atau bisa jadi diberikan sebagai hadiah untuk orang tua dan saudara yang belum memiliki smartphone. Samsung akan memasarkannya pada 27 Mei 2019, tunggu saja.

Imbas Konflik dengan Trump, Huawei Dilarang Akses Google dan Android

Kabar cukup mengejutkan datang dari pabrikan China yang cukup populer, Huawei. Kali ini bukan soal penjualan mereka yang cukup moncer di kawasan Amerika dan Eropa, namun kabar ini merupakan lanjutan dari 'perang' pabrikan tersebut dengan pemerintah Amerika Serikat.


Departemen Perdagangan Amerika Serikat telah melarang semua elemen di negara tersebut untuk melakukan transaksi dagang dengan Huawei Technologies Co. Ltd. berikut 68 afiliasi yang terkait dengannya. Huawei dan afiliasinya yang disebut Entity List ini senasib dengan yang pernah dialami ZTE pada 2018, sehingga praktis menimbulkan disrupsi massal yang cukup memukul.

Keputusan yang langsung ditandatangani oleh Presiden Donald Trump itu membuat Huawei tidak lagi bisa membeli suku cadang, komponen, hingga perangkat lunak dari perusahaan Amerika Serikat tanpa persetujuan pemerintah Paman Sam itu.

Hal ini mengakibatkan Huawei tidak bisa mendapatkan akses terhadap layanan Google lagi, termasuk diantaranya update Android baru, PlayStore dan lainnya.

Meski begitu, pihak HiSilicon sebagai anak usaha Huawei di bidang chipset telah menyatakan kalau raksasa China ini sudah siap dengan larangan tersebut. Mereka sudah mempersiapkan sejak enam tahun lalu untuk menghadapi hal semacam ini.

Kesiapan Huawei dan kabar selanjutnya tentu bisa terlihat dari agenda baru yang akan mereka laksanakan. Agenda ini merupakan ajang peluncuran produk baru dari anak usaha Huawei lainnya di bidang smartphone, yakni Honor. Diketahui, Honor sudah menjadwalkan perilisan Honor 20 pada 21 Mei 2019 mendatang di London, Inggris.

Pelarangan ini merupakan buntut dari ketegangan yang tercipta akibat tuduhan pemerintahan Donald Trump terhadap Huawei. Mereka menuduh pabrikan asal China ini sebagai pelaku spionase melalui perangkat gawainya.

Asus Zenfone 6: Smartphone Berotak Snapdragon 855 dengan Kamera Bisa Diputar

Sejak dirilis pada akhir tahun 2018, Snapdragon 855 menjadi parameter sebutan flagship bagi sebuah smartphone Android. Itulah kenapa, pasca Qualcomm merilisnya, beberapa pabrikan langsung tancap gas untuk menyesuaikan rancangan smartphone mereka agar bisa dipasangi chipset ini.

Di pasar internasional, smartphone dengan jeroan Snapdragon 855 sudah banyak beredar. Sebut saja seri Galaxy S10 dari Samsung; G8 Thinq dan V50 Thinq dari LG; Z5 Pro GT dari Lenovo; Mi 9, Mi Mix 3, dan Blackshark 2 dari Xiaomi; maupun OnePlus 7 dan Oneplus 7 Pro. Hampir semua pabrikan telah merilis smartphone flagship dengan chipset terbaru ini.


Untuk itulah sebagai salah satu pabrikan yang cukup ternama dalam industri gawai, Asus pun merilis smartphone dengan otak Snapdragon 855 didalamnya. Smartphone ini selain menjadi yang pertama, tentu saja menjadi penerus seri Zenfone 5 yang telah berumur satu tahun.
Bertempat di Ciutat de les Arts i les Ciències, Valencia, Spanyol, pada 17 Mei 2019 lalu, Asus merilis Zenfone 6 (ZS630KL). Smartphone flagship ini tentu bukan cuma mengandalkan otak Snapdragon 855 saja. Ia harus punya pembeda yang membuatnya dilirik konsumen di pasaran.

Asus membuat tagline ‘defy ordinary’ pada ajang perilisan di Valencia itu. Tagline yang berarti menentang kebiasaan itu memang cukup masuk akal disematkan pada Zenfone 6. Pasalnya, saat banyak pabrikan terbiasa membuat desain yang hampir mirip satu sama lainnya, Asus dengan Zenfone 6 ini menentang kebiasaan itu.

Desain yang tampak berbeda dari Zenfone 6 adalah bagian belakang. Asus masih mempertahankan desain kamera ganda dengan posisi horisontal yang mengapit LED flash. Ia dibingkai dalam sebuah wadah yang bisa disebut sebagai gearbox. Wadah inilah yang menjadi pembeda Zenfone 6 dari seri lainnya, atau bahkan dengan desain yang sudah biasa terlihat di smartphone merek lain.

Beberapa senti meter di bawah kamera ganda itu tampak sebuah fingerprint sensor yang berbentuk persegi panjang tanpa sudut. Ya, Zenfone 6 ini masih memakai sensor fisik di bagian belakang, bukan in-display maupun under-display fingerprint seperti merek sebelah.
Bagian belakang ini terbuat dari bodi kaca Corning Gorilla Glass. Asus tidak menyebut versi berapa Gorilla Glass yang ada di belakang ini. Kemudian tulisan Asus yang cukup besar dengan keterangan perusahaan pembuat secara menyamping mengisi ruang kosong pada bagian bawah bodi belakang ini.

Sementara di bagian depan, Asus membenamkan layar sentuh IPS LCD dengan bentang 6,4 inci, resolusi 1080x2340 piksel, rasio layar 19,5:9, dan dilindungi oleh Gorilla Glass 6. Layar ini hampir bezelless dan tidak memiliki poni maupun tompel untuk menaruh kamera depan. Asus menyebutnya NanoEdge Display. Lalu dimanakah letak kamera depannya?

Zenfone 6 hanya memiliki dua kamera saja, dan dua-duanya terletak di belakang. Kamera utama letaknya ada di sebelah kanan dengan resolusi 48 MP dengan sensor dari Sony IMX 586, bukaan f/1.8, dan ada fitur Laser Autofocus. Sementara kamera sekunder yang ada di sebelah kiri memiliki resolusi 13 MP dengan bukaan f/2.4 yang dipergunakan untuk pemotretan dengan sudut lebar.

Asus menentang kebiasaan dengan tidak memakai kamera depan di layar seperti smartphone berponi pada umumnya, tidak juga pada slider seperti Oppo Find X maupun Mi Mix 3, ataupun pada mekanisme pop-up seperti pada Oppo F11 Pro dan Vivo V15. Asus memakai fitur Flip Camera untuk mengubah kamera belakang menjadi kamera depan.

Gearbox di bagian belakang yang disinggung diatas merupakan wadah yang dipergunakan Asus untuk memfungsikan kamera tersebut menjadi kamera belakang atau mode standby. Apabila diperlukan, kamera akan berputar (flip) menjadi kamera depan. Proses perputarannya pun bisa diatur kecepatannya, begitu juga dengan sudutnya.

Pada tahun 2016, Evercoss pernah memakai desain semacam ini untuk Winner T Selfie. Meskipun pabrikan lokal ini menggunakan flip camera secara manual, tapi paling tidak desain ini enggak baru-baru amat. Bahkan di tahun 2019 ini, Samsung Galaxy A80 juga memadukan antara flip camera dengan fitur slider untuk memutar kamera belakang menjadi kamera depan. ~Lalu, apanya yang defy ordinary, Sus?

Untuk dapur pacu Zenfone 6, sebagaimana sudah disebutkan, diotaki oleh Snapdragon 855. Sementara itu, ada tiga versi RAM dan memori internal, yakni RAM 6 GB dan memori 64 GB, RAM 6 GB dan memori 128 GB, serta RAM 8 GB dan memori 256 GB.

Dapur pacu ini akan menggerakkan sistem operasi ZenUI 6 berbasis Android P yang kali ini tampil layaknya stock Android. Ini pilihan yang baik mengingat banyak orang cukup kecewa dengan tampilan kaku dari ZenUI konvensional. Asus pun menjamin kalau Zenfone 6 bakal mendapat update untuk Android Q beta.

Zenfone 6 punya kelebihan lain di sektor catu daya. Layaknya smartphone Asus seri Zenfone Max, Zenfone 6 punya baterai jumbo dengan kapasitas 5000 mAH. Baterai besar ini ditopang oleh fitur Quick Charge 4.0, sehingga waktu charging tidak begitu lama.
Pada situs AnTuTu Benchmark, Zenfone 6 mendapatkan skor di angka 360-ribuan. Angka ini memang berada dibawah Mi9 yang mendapatkan 370-ribuan.

Buat yang tertarik, sayangnya belum ada tanggal pasti kapan Zenfone 6 bakal hadir di Indonesia. Namun dari beberapa sumber, Asus mengatakan kalau smartphone ini pasti hadir di Indonesia tiga hingga empat minggu lagi. Dengan harga Eropa mulai dari €499 atau sekitar Rp8-jutaan, bisa jadi ketika smartphone ini hadir di Indonesia harganya jadi lebih murah.

Asus pun tidak memberikan opsi lain selain perbedaan RAM, memori, warna Midnight Black dan Twilight Silver, pada Zenfone 6 ini. Jadi pastikan bahwa tidak ada versi ‘lite’ untuk Zenfone 6.

Jika benar kurang dari sebulan lagi Zenfone 6 hadir di pasar Indonesia, meski ada beberapa kekurangannya seperti layar yang masih IPS LCD, quick charge yang masih belum terlalu cepat, tapi konsumen hanya punya satu-satunya pilihan untuk meminang smartphone resmi dengan chipset Snapdragon 855. Kecuali, konsumen Indonesia lebih tertarik dengan smartphone bergaransi distributor.

Redmi 7: Chipset Kelas Menengah dengan Harga Kelas Bawah

Hoki Xiaomi tampaknya berada di angka ganjil. Hal ini tampak dari penetrasi luar biasa Redmi 5 dan terutama Note 5 di pasar Indonesia. Namun keadaannya tidak begitu baik dengan kehadiran Redmi 6 dan Note 6. Ihwal ini bisa ditambahkan fenomena Mi A2 yang tidak secemerlang Mi A1.


Anggapan ini pun dikuatkan dengan kehadiran Redmi Note 7, yang meski boleh disanggah kalau brand-nya tak lagi Xiaomi, namun Redmi tetaplah milik ‘si padi kecil’ itu. Redmi Note 7 dengan gimmick kameranya itu cukup luar biasa dalam meletakkan pondasi harga bagi smartphone mid-range.

Situasinya pun berlanjut ketika Xiaomi, eh maaf, Redmi kembali merilis Redmi 7 dalam waktu yang tak terlalu lama. Dirilis secara resmi pada Selasa (23/04/2019) lalu, Redmi 7 tampaknya ingin memanfaatkan betul hype yang menempel pada Redmi Note 7.

Hal yang cukup aneh adalah bagaimana Redmi memposisikan Redmi 7 ini setelah di pasar sudah ada Redmi Note 7. Pasalnya, spesifikasi yang ditawarkan Redmi 7 ini berada dibawah Redmi Note 7, sementara harganya hanya terpaut Rp.100.000 saja.

Posisi itupun hanya diukur dari pihak internal saja, belum lagi kalau berhadapan dengan Asus Zenfone Max M2, Samsung Galaxy M10, dan smartphone dari brand lain yang punya posisi yang sama dari segi harga serta fiturnya dengan Redmi 7. Kenapa, Redmi?

Sebelum memperkirakan jawaban untuk pertanyaan semacam itu, sebaiknya diintip dulu spesifikasi yang ditawarkan oleh Redmi 7 ini.

Hal yang paling tampak dari Redmi 7 adalah bentuknya yang memang menyerupai Redmi Note 7. Dengan poni tetes air yang disebut sebagai dot drop, Redmi 7 memakai layar 6,26 inci dengan panel IPS LCD. Sayangnya, panel ini hanya HD, belum Full HD seperti Redmi Note 7.

Layar ini dilindungi oleh coating dari Corning Gorilla Glass versi 5. Sementara di bagian belakangnya, tidak ada coating apapun, hanya bodi plastik dengan desain yang cukup mainstream. Bagian belakang ini hanya dihuni bulatan fingerprint scanner, tulisan Redmi, dan kamera belakang ganda dengan tulisan AI Dual Camera dan flash di bawahnya.

Kamera belakang ganda Redmi 7 ini terdiri atas kamera utama dengan resolusi 12 MP dengan bukaan f/2.2, kemudian kamera kedua memiliki resolusi 2 MP yang hanya berfungsi sebagai depth sense alias pembuat bokeh. Konfigurasi kamera ganda ini bisa merekam video hingga 1080p dengan 60 fps.

Kamera depan yang terletak di poni dot drop memiliki resolusi yang kecil saja, hanya 8 MP. Meski bisa dipakai untuk merekam video hingga 1080p dengan 30 fps, aktivitas selfie maupun vlogging rasanya tidak begitu disarankan dengan kamera depan ini.

Sekarang ke bagian jeroan Redmi 7. Smartphone ini mengusung chipset kelas menengah yang dipakai juga oleh Asus Zenfone Max M2, yakni Snapdragon 632. Chipset yang memiliki fabrikasi 14 nm ini memiliki clockspeed hingga 1,8 GHz. Untuk urusan grafisnya diserahkan pada Adreno 506.

Smartphone ini mendapatkan angka rata-rata benchmarking di situs AnTuTu sebesar 100ribuan. Skor ini memang kecil untuk smartphone mid-range kekinian, namun untuk harga yang terbilang hampir masuk ke level entry, Redmi 7 layak mendapat pujian.

Pujian tambahan pun layak disematkan ketika masuk ke software kustomisasi Android 9, yakni MIUI 10. Kustomisasi khas Xiaomi ini cukup ngebut kala dipakai untuk penggunaan harian.

Di Indonesia, Redmi hanya memasarkan Redmi 7 dengan varian RAM 2 GB dan memori 16 GB serta RAM 3 GB dan memori 32 GB saja. Di Cina, Redmi 7 juga memiliki varian 4 GB dan 64 GB. Nah, dari sini sebetulnya mulai terbaca posisi smartphone satu ini.

Redmi 7 diposisikan sebagai obat penawar dari mereka yang merasa kurang hoki dalam berebut dengan tengkulak konsumen lain pada ajang flash sale Redmi Note 7. Sebagaimana telah diungkap diatas, Redmi 7 hanya mendompleng hype yang dibuat oleh Redmi Note 7. Saat Redmi Note 7 dengan harga resmi cukup langka di pasaran, Redmi 7 hadir dengan harga yang wajar dan stok yang terjaga.

Redmi Note 7 memang dijual secara resmi dengan harga Rp1.999.000 untuk varian 3 GB/32 GB dan Rp.2.599.000 untuk varian 4 GB/64 GB. Namun banyak yang mengeluh karena smartphone ini goib. Ajaibnya, setelah flash sale, Redmi Note 7 pun bergentayangan di beragam marketplace dan konter ponsel dengan harga yang naik sekitar Rp300.000-an. Kejadian yang sama pun pernah terjadi pada Redmi Note 5.

Apakah Xiaomi tidak pernah belajar untuk menghitung stok yang tersedia dengan pasar yang kelaparan? Perilisan Redmi 7 inilah menjadi bukti sahih bahwa Xiaomi telah fasih pada bab ini.
Dengan tiga varian warna Comet Blue, Lunar Red, dan Eclipse Black, Redmi 7 dibanderol dengan harga Rp 1.599.000 untuk RAM 2GB/16 GB dan Rp 1.899.000 untuk RAM 3 GB/32 GB. Varian tertingginya hampir sama ‘kan harganya dengan Redmi Note 7?

Kalau menilik pertimbangan harganya, tentu jauh lebih baik memilih Redmi Note 7 daripada Redmi 7. Tapi perbandingan harga ini pada akhirnya tidak setara, sebab harga Redmi Note 7 sudah dikatrol tengkulak. Meski dengan harga katrolan, price-to-spec Redmi Note 7 masih oke kok, asal ikhlas membayar diluar harga resmi.

Artikel ini pernah tayang di Mojok.co

Lolos TKDN, Redmi 7 Siap Meluncur di Pasar Indonesia dengan Harga Rp1,5 Jutaan

Sub-brand baru dari Xiaomi, yakni Redmi, kini mulai merambah Indonesia. Ia bakal hadir dengan produk terbarunya yang diberi nama Redmi 7. Smartphone ini bakal hadir bersamaan dengan Redmi Note 7 yang akan hadir pada 21 Maret 2019. Apa keunggulan Redmi 7 dan berapakah harganya?

Redmi 7 sudah resmi dirilis di China pada Senin (18/3/2019) kemarin. Acara yang juga disiarkan secara live streaming ini mengungkap jelas spesifikasi dan harga yang dibanderol pada smartphone tersebut. Redmi 7 dibekali dengan chipset Snapdragon 632 dengan prosesor octa-core yang dipadankan dengan tiga opsi RAM dan memori interneal. Mulai dari RAM 2 GB dan memori internal 32 GB, RAM 3 GB dan memori 32 GB, serta RAM 4 GB dan memori 64 GB.


Smartphone ini memiliki layar 6,26 inci dengan panel IPS LCD yang beresolusi HD+ 1520 x 720 piksel. Layar ini memiliki desain melengkung di keempat sisinya dengan bagian atas memiliki poni tetes air. Untuk perlindungannya, ada coating Gorilla Glass 5.

Sektor kamera belakang Redmi 7 dibekali dengan sensor 12 MP dengan bukaan f/2.2 dan kamera keduanya memiliki sensor 2 MP sebagai depth sensor. Kamera depan sendiri, yang berada di bagian poni, memiliki kapasitas sensor sebesar 8 MP yang dibekali dengan fitur untuk mengenali gesture gerakan tangan.

Redmi 7 dibekali dengan baterai sebesar 4000mAh yang bisa dioptimalkan sehingga mampu bertahan hingga 400 jam waktu standby.

Untuk bodi belakangnya sendiri, meskipun berbahan plastik, namun dilengkapi dengan P2i nano hydrophobic coating sehingga menciptakan efek daun talas yang berguna agar bodi tahan dengan cipratan air dan keringat. Bodi belakang ini hadir dengan tiga pilihan warna, yakni Comet Blue, Lunar Red, dan Eclipse Black.

Di China, Redmi 7 dibanderol dengan harga mulai dari 699 Yuan atau sekitar Rp1,5 juta untuk varian RAM 2GB+ROM 16GB, 799 Yuan atau sekitar Rp1,7 juta untuk varian RAM 3GB+ROM 32GB, dan 999 Yuan atau sekitar Rp2,1 juta untuk varian dengan RAM 4GB+ROM 64GB. Apakah harga ini sama atau malah lebih mahal ketika dirilis di Indonesia? Kita tunggu saja.

Xiaomi Black Shark 2, Usung Chipset Mutakhir dan Pendingin Teknologi Baru

Xiaomi akhirnya merilis suksesor smartphone seri gaming mereka, Black Shark. Meskipun jaraknya cukup lama, Mi Fans dan para pecinta gaming tentu menantikan smartphone yang dibekali dengan teknologi terbaru ini.

Sesuai dengan nama pendahulunya, smartphone ini diberi nama Black Shark 2. Nama yang masih sama pun berlanjut ke sisi desain yang juga tak terlalu berbeda. Namun Xiaomi membenamkan aneka spesifikasi terbaru yang lebih canggih dibandingkan yang lama.


Teknologi di dalam smartphone gaming ini salah satunya adalah 'kamar pendingin' yang berisi cairan. Pendingin ini merupakan teknologi generasi ketiga yang diklaim mampu menurunkan suhu hingga 14 derajat.

Pendingin ini kelak berguna untuk mendinginkan chipset Snapdragon 855 dengan grafis Adreno 640. Spesifikasi ini tentu kabar baik, sebab chipset terbaru dari Qualcomm itu merupakan chipset canggih dengan pengoperasian yang hemat daya dan tahan panas.

Ada tiga pilihan RAM untuk Black Shark 2, yakni 6 GB, 8 GB, dan 12 GB. Untuk memorinya sendiri ada dua pilihan yakni 128 GB dan 256 GB. Sementara itu untuk menopang dayanya diserahkan pada baterai berkapasitas 4.000 mAh.

Di bagian depan ada layar AMOLED dengan aspek rasio 19,5:9 selebar 6,39 inci. Selain cukup lebar untuk bermain game, layar ini memiliki akurasi warna yang cukup baik dan ditunjang dengan latensi sentuhan mencapai 43,5 ms. Pada layar ini juga disematkan pemindai sidik jari.

Sektor kameranya, Black Shark memakai kamera belakang dengan sensor dari Sony yakni IMX586 48 MP dengan bukaan f/1.75 dan sebagai kamera sekunder memakai Samsung S5K3M5 12 MP dengan bukaan f/2.2.

Soal harga, Xiaomi memang hobi merusak pasar, sebab di China smartphone ini dibanderol dengan harga 3199 Yuan atau setara Rp6,7 juta untuk versi RAM 6 GB memori 128 GB. Untuk RAM 8 GB memori 128 GB dibanderol dengan harga 3499 Yuan atau setara dengan Rp7,3 juta. Lalu versi tertinggi, RAM 12 GB dan memori 256 GB dibanderol dengan harga 4199 Yuan atau sekitar Rp8,9 juta.

Sayangnya, Xiaomi kemungkinan tidak akan membawa resmi smartphone gaming ini ke Indonesia sebagaimaba Black Shark pertama. Tapi siapa tahu kali ini Xiaomi berani.

Harga dan Spesifikasi Oppo F11 dan Oppo F11 Pro

Perusahaan riset Canalys menyebut kalau pasar smartphone Indonesia tumbuh dengan konsisten di akhir tahun 2018. Perusahaan yang berbasis di Singapura ini mengindikasikan kalau minat konsumen untuk melakukan upgrade smartphone-nya cukup tinggi.


Minat ini tentu dibaca oleh pabrikan smartphone yang memasarkan produknya di Indonesia. Salah satunya Oppo. Pabrikan asal China ini memang cukup agresif di pasar Indonesia. Itulah sebabnya, menurut hasil riset Canalys, merek yang satu ini cukup kokoh dengan market share 19,5% pada kuartal akhir 2018.

Pada Maret ini pun, Oppo merilis dua smartphone seri F dengan nama Oppo F11 dan Oppo F11 Pro. Buat yang mengikuti sepak terjang Oppo, dirilisnya dua smartphone Oppo seri F ini tentu sebuah kabar baik. Pasalnya Oppo sempat menyebut kalau seri F akan dihentikan.
Penghentian ini disebabkan ‘kesuksesan’ Oppo sendiri dalam mempromosikan jargon “Selfie Expert” lewat seri F. Imaji tentang ahlinya ahli, eh maaf, ahlinya swafoto ini masih terbawa hingga Oppo Find X. Padahal smartphone flagship tersebut merupakan smartphone dengan spesifikasi kelas wahid dengan beberapa fitur nan canggih.

Keputusan untuk mengentikan seri F ini mungkin diralat oleh Oppo setelah mempertimbangkan hasil yang digapai Oppo R17 Pro. Citra Oppo sebagai smartphone yang dibuat untuk swafoto sedikit pudar oleh smartphone tersebut. Itulah sebabnya Oppo F11 dan F11 Pro kemudian dirilis.

Hijrah ini pun ditandai dengan hadirnya jargon baru yakni “Portrait Master”. Meski masih soal kamera, jargon ini mengindikasikan kalau Oppo sekarang menjual teknologi yang lebih canggih, bukan semata foto wajah yang kinclong berlebihan hasil olah software.

Perbedaan yang tampak antara Oppo F11 dan Oppo F11 Pro dari sisi tampilan adalah keberadaan waterdrop notch alias poni tetes air yang dimiliki F11. Poni ini menyembul diatas layar IPS LCD berdimensi 6,5 inci. Sementara Oppo F11 Pro memiliki layar IPS LCD dengan lebar 6,53 inci tanpa poni, bezel tipis, dan memiliki screen-to-body ratio sebesar 90,90%. Layar ini disebut Oppo sebagai Panoramic Screen.

Absennya poni pada layar Oppo F11 Pro menuntut pabrikan untuk membuat desain pop-up guna memunculkan kamera depan dari dalam bodi. Mekanismenya mirip Vivo V15, cuma Oppo F11 Pro menempatkan pop-up kamera depan dan belakang ini di tengah, bukan di sisi kiri. Kalau dilihat dari sisi desain, lumrah sih ada mirip-miripnya, namanya juga saudara.

Sebagai penegas kalau sudah hijrah dari ahlinya swafoto ke Portrait Master, Oppo menempatkan kamera depan ‘hanya’ 16 MP saja dengan bukaan f/2.0 pada Oppo F11 dan F11 Pro. Resolusi ini tentu lebih kecil dibanding Oppo F9 dengan kamera depan 25 MP.

Sementara itu, kamera belakang Oppo F11 dan F11 Pro justru mengalami peningkatan dibandingkan Oppo F9 yang memiliki kamera ganda dengan resolusi 16 MP bukaan f/1.8 dan 2 MP bukaan f/2.4. Oppo F11 dan F11 Pro memiliki kamera ganda di belakang dengan resolusi 48 MP bukaan f/1.8 dan 5 MP bukaan f/2.4. Namun secara default, kamera hanya akan menangkap gambar dengan resolusi 12 MP saja. Untuk mendapatkan resolusi penuh 48 MP, pengguna mesti mengatur agar kamera mengambil gambar dengan mode “Ultra HD”.

Kamera belakang ini diklaim Oppo mampu membaca pemetaan wajah, fitur muka, dan warna kulit dengan lebih baik. Dengan bertumpu pada fokus terhadap potret inilah kenapa Oppo menyebut Oppo F11 dan Oppo F11 Pro sebagai “Portrait Master” dan menghentikan “Selfie Expert”.

Fitur pada kamera belakang itu hadir berkat adanya teknologi AI Ultra-clear Engine. Teknologi ini terdiri atas tiga komponen yang disebut AI Engine, Ultra-clear Engine, dan Color Engine.

Saat AI Engine dipadukan dengan Ultra-clear Engine, kamera mampu menghasilkan Ultra Night Mode. Dalam mode ini, algoritma bakal memadukan tujuh foto dalam kondisi yang kurang cahaya untuk menghasilkan satu foto dengan pencahayaan yang seimbang dan rendah noise.
Sementara itu ketika AI Engine bergabung dengan Color Engine, maka hadirlah Dazzle Color Mode. Mode ini membuat kamera mampu mengenali berbagai jenis pemandangan pada kondisi cahaya yang bagus. Lewat bantuan Algoritma Pixel-grade, mode ini mampu memetakan kurva warna untuk menyempurnakan hasil foto.

Dengan berbagai fitur kamera belakang yang menjanjikan, kamera depan tetap mendapatkan porsi yang sesuai, baik yang berada pada poni di layar Oppo F11 maupun pop-up pada Oppo F11 Pro. Kamera depan ini telah dibenamkan software Beautification 2.0 yang diklaim mampu mengenali 137 data titik wajah sehingga bisa menciptakan hasil foto yang lebih cakep dari aslinya halus.

Dapur pacu Oppo F11 dan F11 Pro sama-sama memakai MediaTek Helio P70 dengan prosesor delapan inti berkecepatan maksimal 2.1 GHz. Perbedaan antara dua smartphone ini terletak pada konfigurasi RAM dan memori saja.

Oppo F11 dipasarkan dengan RAM 4 GB dan memori 128 GB, sementara Oppo F11 Pro hadir dengan RAM 6 GB dan memori 64 GB. Buat yang membutuhkan memori lebih besar lagi, keduanya bisa ditambahkan dengan memori eksternal hingga 256 GB yang bisa dipasang melalui slot hybrid.

Kedua smartphone sudah memakai ColorOS 6.0 yang berbasis Android 9.0 Pie. Software kustomisasi Oppo ini memungkinkan perangkat untuk memakai fitur fast charging VOOC 3.0. Fitur pengisian cepat ini memungkinkan catu daya yang dimiliki kedua smartphone sebesar 4000 mAh tersebut bisa diisi dari 0 % hingga 100 % hanya dalam waktu 80 menit saja.

Seandainya kedua smartphone ini sudah memakai USB Type C, fitur VOOC tersebut mungkin bisa lebih cepat lagi dalam mengisi baterai. Sayangnya, port micro-USB 2.0 masih dipilih Oppo untuk input daya maupun data pada keduanya.

Soal harga, Oppo membanderolnya sedikit lebih mahal dibanding saudara-rasa-kompetitor yang tempo hari merilis Vivo V15 dengan harga Rp4.399.000. Dengan spesifikasi yang hampir serupa, Oppo F11 Pro dibanderol denga harga Rp4.999.000 dengan ketersediaan warna Thunder Black dan Aurora Green. Sementara Oppo F11 dibanderol dengan harga Rp3.999.000 dengan ketersediaan warna Fluorite Purple dan Marble Green.

Untuk yang membutuhkan hasil gambar yang baik, kedua smartphone ini merupakan jawaban yang cukup masuk akal di rentang harga senilai itu. Hanya saja buat yang lebih mementingkan fitur dapur pacu saja dengan rentang harga dibawah itu, tentu bukanlah pangsa pasar yang sedang digarap Oppo.

Spesifikasi:



Review Vivo V15, Smartphone Berkamera Depan Pop-Up Termurah

Vivo menjadi satu-satunya brand smartphone di Indonesia yang agak ‘nyeleneh’ soal perilisan smartphone terbaru. Pasalnya daripada ndakik-ndakik membahas spesifikasi yang mendetail, Vivo lebih mengutamakan nuansa entertainment.



Nuansa tersebut tentu dipilih karena Vivo memilih jalur blocking stasiun televisi untuk publikasi. Vivo memilih cara ini sejak Vivo V7+ dan V9. Saat kita menganggapnya sebagai pemborosan, Vivo Indonesia menganggapnya sebagai investasi. Mungkin inilah yang membuat Vivo, menurut periset pasar Canalys, mendapat angka pertumbuhan pada kuartal 4 tahun 2018 sebesar 132 %, dengan angka market share sebanyak 15,9 % alias keempat terbesar di Indonesia.

Vivo pun kembali melakukannya saat perilisan Vivo V15 pada Selasa (5/3) malam lalu. Bertempat di Taman Air Mancur Sri Baduga Purwakarta, Jawa Barat, Vivo kembali melakukan blocking lima stasiun televisi untuk mempublikasikan smartphone terbarunya ini.

Ya memang sih, tanpa menyimak rubrik Konter di Mojok, mungkin agak sulit bagi publik untuk mengingat spesifikasi detail dari Vivo V15 ini. Khalayak bakal lebih mengingat Young Lex Maudy Ayunda yang bernyanyi diatas perahu daripada chipset apa yang dipakai Vivo V15 dan berapa kecepatan clock speed-nya.

Vivo V15 memiliki dapur pacu yang juga dipakai oleh Realme 3 dan Oppo F11, yakni MediaTek Helio P70 dengan grafis Mali-G72 MP3. Sebetulnya suka kasihan dengan MediaTek, sebab meski berjasa memberikan harga yang lebih terjangkau, ia kerap diabaikan oleh pabrikan. Bukti yang paling sahih adalah sering tidak ditulisnya logo MediaTek di dus smartphone maupun spesifikasi di situs resmi.

Penjelasan tentang MediaTek jenis apa yang dipakai biasanya ditemukan sekilas saat presentasi produk untuk media dan influencer. Pada spesifikasi di situs resmi Vivo Indonesia hanya tertulis bahwa V15 memakai prosesor octa-core dengan kecepatan 2,1 GHz.

Chipset ini menjalankan software FunTouch 9.0 based Android Pie dan ditopang oleh baterai yang lumayan besar, yakni 4000 mAh. Sayangnya meski support fast charging, selain masih memakai port micro-USB, Vivo juga tidak memberikan charger yang mendukung fitur tersebut.

Buat yang gandrung dengan skor benchmark, Vivo V15 dengan Helio P70 rata-rata mendapatkan skor sebesar 137.000-an. Skor yang sedikit lebih kecil dibandingkan chipset Snapdragon 660 yang dipakai Asus Zenfone Max Pro M2, Realme 2 Pro, serta Mi 8 Lite, dan Vivo V11 Pro.

Vivo V15 hanya dipasarkan di tanah air dengan dua warna, yakni Royal Blue dan Glamour Red, dengan kapasitas RAM 6 GB dan memori internal 64 GB. Kapasitas penyimpanan bisa ditambahi dengan keberadaan slot memori eksternal yang mendukung hingga 256 GB. Namun diluar negeri, selain dua hal itu, Vivo memberikan opsi lain, yakni ‘opsi’ upgrade spesifikasi dengan meminang sang kakak, Vivo V15 Pro.

Dari segi tampilan, Vivo V15 memiliki desain yang lumayan orisinal. Maksudnya orisinal ‘cetakan’ BBK Electronics, sebab Oppo F11 pun memakai desain yang hampir serupa. OnePlus mungkin bakal mengadopsinya pula.

Desain Vivo V15 di bagian belakang terkesan kembali ke zaman ketika era ponsel Symbian ala Nokia berjaya. Pada smartphone sebelumnya, baik Vivo seri V dan seri Y, bingkai kamera hanya membulat di sekitar lensanya saja. Namun pada Vivo V15, tiga kamera di belakang punya bingkai dengan bentuk sendiri.

Warna gradasi masih dipakai sebagai penanda kalau smartphone ini lahir di rentang 2018 dan 2019 dimana desain warna ini cukup mainstream dipakai oleh pabrikan. Sementara itu, berbeda dengan Vivo V15 Pro, smartphone ini masih memakai fingerprint scanner di belakang. Jadi penampakan bodi belakangnya tidak polos seperti kakaknya itu.

Keberadaan fingerprint scanner yang tidak ditempatkan di layar disebabkan Vivo V15 hanya memakai layar IPS LCD, bukan Super AMOLED yang bisa dipasangi in-display fingerprint scanner layaknya sang kakak. Layar ini memiliki resolusi 2340 x 1080 FHD+ dengan bentang seluas 6,53 inci dan rasio 19,5:9.

Salah satu keunggulan Vivo V15 adalah keberadaan layar yang hampir penuh. Angka rasio layar ke bodinya mencapai 90,95%. Vivo menyebutnya sebagai Ultimate All Screen. Keunggulan ini disebabkan inovasi Vivo yang sudah dipakai sejak Vivo Nex terdahulu, yakni kamera depan yang muncul dari dalam bodi.

Ya, berkat kamera depan sebutan kamera pop-up ini, poni –apapun bentuk poninya—tidak relevan lagi disebut sebagai fitur. Poni hanyalah ruang ‘konsensus’ antara keinginan pabrikan untuk meninggikan rasio layar ke bodi dengan penempatan kamera depan, proximity sensor, dan earpiece.

Relevansi antara poni dengan tingginya rasio tersebut dimentahkan dengan keberadaan kamera slider pada Oppo Find X dan Mi Mix 3, serta pop-up pada kamera Vivo V15. Kamera depan dengan resolusi 32 MP dan fitur AI Face Beauty tersebut akan muncul ketika pengguna ingin memotret secara selfie.

Buat yang khawatir soal ketahanan motor yang menggerakkan pop-up tadi, Vivo menggaransi mekanisme ini tahan hingga 5 tahun dengan penggunaan selfie maksimal 30 kali dalam satu hari. ~Ehmmm...siapa yang sefie-nya sebanyak itu, ya?

Kamera depan memang senantiasa menjadi fitur unggulan yang selalu dipromosikan Vivo. Apalagi kehadiran kamera pop-up dengan resolusi besar pada Vivo V15 kali ini. Namun bukan berarti Vivo meninggalkan sektor kamera belakang begitu saja.

Ada tiga kamera belakang yang dimiliki Vivo V15. Kamera pertamadisebut Depth Camera sebab dengan resolusi 5 MP, kamera ini bakal membuat bokeh jika diperlukan. Kemudian dipisahkan oleh LED flash, ada kamera AI Super Wide-Angle Camera dengan resolusi 8 MP yang mampu membuat foto dengan sudut yang lebar hingga 120 derajat. Di bawahnya ada kamera utama yang memiliki resolusi 12 MP dengan 24 juta unit fotosensitif, yang diklaim membuat hasil foto lebih jernih dan terang.

Ada yang bilang acara hiburan yang dihelat Vivo kerap memunculkan smartphone yang overprice. Untunglah pada Vivo V15 kali ini, harga yang ditawarkan cukup kompetitif di kelasnya. Pasalnya baru kali ini smartphone dengan fitur kamera pop-up dibanderol dibawah lima juta, tepatnya Rp4.399.000.

Buat para penggemar selfie atau mereka yang kerap terganggu poni namun menginginkan layar yang penuh, ya di Vivo V15 inilah jawabannya. Tapi buat yang mengincar spesifikasi untuk bermain game kelas menengah, namun harganya dibawah Vivo V15, opsinya memang masih cukup banyak. Pilihan selalu di tangan anda.



Pernah dimuat di Mojok.co

Hoax Ternyata Meningkat Jelang Pemilu 2019

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) merilis hasil laporan yang cukup mencengangkan. Komunitas yang memfokuskan diri dalam pemberantasan informasi palsu atau yang kerap disebut hoax ini merilis data ihwal hoax yang ternyata eskalasinya meningkat jelang pemilihan umum tahun 2019.

Kampanye "Stop Hoax" oleh Mafindo. (Gambar: Katadata)
Jumlah hoax yang berhasil didata dan diverifikasi sebagai hoax oleh Mafindo sejak 2018 sampai dengan Januari 2019 cukup banyak. Jumlah hoax pada tahun 2018 mencapai 997 hoaks dan 488 hoax (49,94%) diantaranya bertema politik. Dari 488 hoaks tersebut, Mafindo mencatat terdapat 259 hoax dengan tema politik sejak Juli sampai dengan Desember 2018. Sedangkan jumlah hoax pada bulan Januari 2019, sebesar 109 buah dengan 58 hoaks diantaranya bertema politik.

Ketua Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, mengatakan bahwa meningkatnya jumlah hoax dengan tema politik yang berhasil kami verifikasi sebagai hoax atau disinformasi, berpotensi mengancam kualitas pesta demokrasi terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia.

"Ia tak hanya akan merusak akal sehat calon pemilih, namun juga mendelegitimasi proses penyelenggaraan pemilu, dan lebih parahnya mampu merusak kerukunan masyarakat yang mengarah perpecahan bangsa,” ungkap Septiaji dalam keterangan persnya.

Lebih jauh Septiaji mengungkapkan bahwa 259 hoax dengan tema politik sejak Juli-Desember 2018 tesebut menyasar kepada Pasangan calon Presiden dan Wapres nomor urut 01 dengan 75 hoax atau sebesar 28,96%, Pemerintah (Kementerian atau Lembaga) 60 hoax atau sebesar 23,16%, Figur terkemuka 57 hoaks atau sebesar 22,01 %, Pasangan calon Presiden dan Wapres nomor urut 02 dengan 54 hoaks atau sebesar 20,85%, Parpol dengan 9 hoaks atau sebesar 3,48% %, Pemda sebesar 4 atau sebesar 1,54%.

Sedangkan pada bulan Januari 2019, jumlah hoax mencapai 109 buah dengan hoax politik mendominasi sebesar 58 buah disusul oleh hoax ‘lain-lain’ 19 buah dan hoax kriminalitas sebanyak 7 buah. Adapun 58 hoax politik tersebut menyasar kepada Paslon 02 sebesar 21 hoaks atau sebesar 36,20 %, Paslon 01 sebesar 19 hoax atau sebesar 32,75 %, Pemerintah K/L sebesar 8 hoax atau sebesar 13,79 %, Figur terkemuka sebesar 7 hoaks atau sebesar 12,06 %, Parpol dengan 3 hoax atau 5,17 %, sementara Pemda Nihil.

Dampak Kerusakan Akibat Hoax

Septiaji memberikan catatan bahwa jumlah angka hoax politik yang tertera tersebut belum mencerminkan dampak atau tingkat kerusakannya. Ada hoax yang bisa lebih merusak ketimbang hoax yang lain. Demikian juga jenis hoax yang menyasar sebuah kelompok, ada yang jenis hoax positif yang bisa jadi dibuat oleh pendukungnya sendiri.

Ketua Mafindo ini menyebut tren kenaikan jumlah penyebaran hoax ini memprihatinkan, karena ruang publik khususnya di media sosial dan group percakapan lebih banyak diisi dengan perdebatan kosong dengan topik hoax daripada adu argumen tentang program ataupun topik lain yang lebih substansial.

“Kami memohon agar meningkatnya jumlah hoax ini harus diantisipasi oleh para politisi. Jangan sampai malah dimanfaatkan untuk menambah keuntungan secara elektoral,” tambah Septiaji.

Mafindo juga mencatat sejak Juli hingga Desember 2018, Facebook masih menjadi sarana penyebaran hoaks yang paling dominan diikuti oleh WhatsApp dan Twitter.

Santi Indra Astuti, Ketua Komite Litbang Mafindo, menjelaskan bahwa semester II tahun 2018 bentuk hoaks yang paling banyak adalah gabungan antara foto/narasi sebesar 45,25% diikuti oleh narasi saja sebesar 30,63% dan video/narasi sebesar 14,22%.

“Namun kita melihat pada bulan Januari 2019, komposisinya sedikit berubah dengan 34,86% berupa narasi saja, kemudian gabungan foto/narasi sebanyak 28.44% dan video/narasi sebanyak 17.43%. Kenaikan jumlah hoaks berbentuk video, mengindikasikan kian canggihnya bentuk hoaks yang beredar di masyarakat,” jelas Santi.

Septiaji meminta masyarakat harus memahami bahwa hoaks itu berbahaya bagi masa depan bangsa. Menurutnya masyarakat juga harus memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih mana berita yang benar dan yang keliru.

"Solusinya masyarakat mesti melek literasi agar ketahanan di dunia digital bisa lebih baik," pungkasnya.

Android Q Sudah Dirilis Untuk Pengguna Pixel

Android Q ternyata sudah dirilis untuk pengguna smartphone Pixel. Pembaruan yang dikenalkan oleh Google pada Rabu (12/3) ini merupakan suksesor dari Android Pie. Meski Android yang belum bernama ini masih dalam versi beta, namun ada beberapa fitur menarik yang membuat banyak orang terkesima.

Google Pixel 3 yang sudah di-update Android Q. (Gambar: BGR.com)
Ada beberapa fitur unggulan dari Android Q ini, salah satunya adalah fitur dark mode. Kalau pada Android sebelumnya fitur dark mode alias mode gelap hanya bisa diterapkan pada beberapa aplikasi saja, pada Android versi ini ternyata bisa diterapkan semuanya.

Fitur lain yang tak kalah canggih juga disematkan untuk mendukung pengguna yang memakai smartphone lipat yang mulai dikenalkan beberapa pabrikan akhir-akhir ini. Selain itu, fitur keamanan pun telah ditingkatkan untuk mode developer pada Android Q. Jadi para pengguna bisa lebih mengatur kontrol privasi pada Android ini.

Kontrol privasi ini memungkinkan pengguna bisa mengatur izin deteksi lokasi dimana perangkat sedang dipergunakan. Jadi kalau fitur ini dinyalakan, maka aplikasi yang terinstal tidak bisa mendeteksi lokasi smartphone. Misalnya pada Google Maps, dimana saat aplikasi ini tidak dijalankan, biasanya fitur deteksi lokasinya terus berjalan tanpa sepengetahuan pengguna. Nah, pada Android Q hal ini tidak terjadi. Fitur deteksi lokasi hanya bisa berjalan ketika penggunanya benar-benar mengizinkannya.

Ada juga fitur yang menarik dari Android Q. Ya memang sih fitur ini bisa didapatkan dengan menginstal aplikasi pihak ketiga, namun hal yang berbeda ketika fitur ini hadir dari sistem operasinya sendiri. Ya, fitur ini adalah fitur screen recording alias perekaman aktivitas layar. Cara mengaksesnya hampir sama seperti mengambil screenshot pada Android sebelumnya, yakni menekan tombol volume down dan power bersamaan.

Prediksi Nama Android Q

Untuk saat ini Google memang belum memberi nama apalagi sudah bersiap-siao membuat tebak-tebakan nama Android ini. Namun seperti biasa, di internet sudah berseliweran nama-nama untuk menyebut huruf 'Q' dari Android Q. Beberaa diantaranya adalah Qurabiya, Quindim, Queen of Puddings, Qottab, Quesito, Queijadinha, maupun Quirks.

Nama-nama tersebut merupakan nama makanan di seluruh dunia yang rasanya manis. Ya, makanan manis memang menjadi ciri khas Google dalam memberi nama Android terbarunya. Lalu, anda punya usul apa?